Top Social

Image Slider

IBX59CC0B1F0120F

Menemukan Rumah Bagi Jiwa

7/15/26
https://www.stafana.com/2026/07/menemukan-rumah-bagi-jiwa.html


Waktu masih sekolah, aku sering merasa ada yang aneh dengan diriku. Aku tidak nyaman berada di tempat yang ramai. Rasanya seperti tubuhku mengecil, kehilangan keberanian, meskipun aku sendiri tidak tahu apa penyebabnya.


Aku juga hanya bisa memiliki dua hingga empat teman dekat. Jika berada dalam kelompok yang lebih besar atau terlalu lama berada di tengah keramaian, aku mulai merasa tidak nyaman. Dulu aku menganggap ada yang salah dengan diriku.


Namun, seiring bertambahnya usia dan berbagai pelajaran hidup yang kulewati, aku mulai memahami bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menjalani hidup dan bersosialisasi.


Aku bisa merasa sangat kesepian di tengah keramaian, tetapi justru merasa penuh ketika sedang sendiri.


Aku terus belajar mengenal diriku sendiri. Aku percaya bahwa mencari jati diri bukan berarti menemukan versi yang sempurna, melainkan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik daripada diriku yang kemarin. Semua pelajaran hidup yang kutemui hari ini juga ingin kupegang hingga akhir hayat, termasuk jika suatu saat nanti aku diberi kesempatan untuk mendidik anak.


Aku sadar bahwa hidup ini hanya sementara. Aku percaya manusia akan menjalani dua kehidupan: kehidupan di dunia yang akan berakhir dengan kematian, dan kehidupan yang kekal di akhirat. Kesadaran itulah yang membuatku belajar menikmati kesendirian.


Aku memilih hidup tanpa bergantung pada banyak orang daripada harus mempertahankan hubungan yang justru membuatku melakukan hal-hal yang seharusnya tidak kulakukan. Sampai hari ini, aku tidak pernah menyesali prinsip itu.


Dalam perjalanan hidupku, ada dua tempat yang selalu membuatku merasa pulang.


Perpustakaan: Rumah Pertama untuk Kehidupan Dunia



Cara belajarku lebih bersifat kinestetik. Aku lebih mudah memahami sesuatu melalui praktik dan pengalaman dibandingkan hanya membaca teori. Karena itu, sejak kecil aku lebih menyukai bacaan ringan seperti komik, buku anak-anak, dan novel. Di antara semuanya, kisah para nabi selalu menjadi favoritku.


Aku juga jarang memiliki akses terhadap buku. Harga buku cukup mahal, sementara perpustakaan di sekolahku dulu lebih banyak berisi buku pelajaran daripada buku bacaan dengan berbagai tema.


Ketika bekerja sebagai content creator, alat utamaku adalah handphone. Hobiku saat itu hanyalah menulis diary di blog. Anehnya, semakin lama aku justru mulai menyukai kegiatan membaca dan menulis menggunakan bolpoin. Tulisan tanganku memang tidak rapi, tetapi selama masih bisa dibaca, aku tidak lagi memikirkannya.


Percaya atau tidak, pernah ada masa ketika aku tidak sanggup membaca satu halaman penuh. Baru beberapa menit membaca, aku sudah merasa lelah dan sangat mengantuk. Sering kali aku hanya membaca sinopsis di bagian belakang buku.


Sampai akhirnya aku menemukan sebuah konten di Instagram yang menjelaskan mengapa membaca terasa berat di awal. Otak memang dirancang untuk menghemat energi. Video bergerak, suara, dan gambar membuat informasi masuk tanpa banyak usaha. Sebaliknya, membaca memaksa otak membangun gambaran, menghubungkan ide, dan memahami makna dari setiap kalimat. Karena itulah membaca membutuhkan usaha lebih besar, terutama bagi orang yang belum terbiasa.


Penjelasan sederhana itu mengubah cara pandangku. Aku berhenti menyalahkan diriku sendiri dan mulai membiasakan diri membaca sedikit demi sedikit.


Hari ini, ketika menulis artikel ini, aku sedang duduk di Perpustakaan Monumen Pers Surakarta. Aku datang sekitar pukul 09.10 pagi.


Aku menikmati masa ketika belum bekerja dan bisa menghabiskan waktu di perpustakaan. Ruangan yang sejuk, rak-rak buku yang tertata rapi, dan suasana yang tenang membuatku perlahan jatuh cinta pada buku, bahkan buku-buku yang dulu tidak pernah menarik perhatianku.


Kalau hari ini ada seseorang yang sedang berjuang membangun kebiasaan membaca, aku hanya ingin mengatakan: nikmati prosesnya. Suka atau tidak suka, cobalah jatuh cinta kepada buku.


Buku tidak pernah mengkhianati.


Jika suatu saat kamu ditertawakan oleh orang-orang yang sudah membaca banyak buku atau dianggap kurang pintar karena baru mulai membaca, percayalah bahwa kamu tidak lebih rendah dari mereka.


Semakin banyak membaca, seharusnya seseorang menjadi semakin rendah hati, semakin berempati, dan semakin sadar bahwa masih banyak hal yang belum ia ketahui.


Daripada terus-menerus memenuhi pikiran dengan konten media sosial yang cepat berlalu, cobalah memberi ruang untuk buku. Mungkin buku tidak akan langsung mengubah hidupmu, tetapi sedikit demi sedikit ia akan membentukmu menjadi pribadi yang lebih baik daripada dirimu yang dahulu.


Baca juga:

7 Kata Jangan yang Akan Menyelamatkan Hidupmu


Masjid: Rumah Kedua untuk Kehidupan Akhirat



Aku bersyukur pernah tinggal di dekat masjid ketika masih kecil. Aku masih mengingat suasana kampung saat salat tarawih berjamaah di bulan Ramadan. Kenangan sederhana itu ternyata membekas sangat dalam dan membentuk diriku hingga sekarang.


Sejak memahami ibadah i'tikaf, aku semakin sering datang ke masjid. Hampir selalu sendirian.


Aku sering bertemu para orang tua yang rutin beribadah. Aku hampir selalu menjadi salah satu jamaah termuda di sana. Barisan jamaah perempuan biasanya tidak terlalu ramai, sementara barisan laki-laki jauh lebih penuh. Meski begitu, aku tetap merasa damai berada di rumah Allah.


Ketika aku merindukan Tuhan, aku tahu ke mana harus pergi. Ke mana pun aku berada nanti, dua tempat pertama yang akan kucari adalah perpustakaan dan masjid.


Meskipun begitu, aku juga sadar bahwa tidak ada tempat yang benar-benar sempurna. Kadang kita bertemu pengurus yang kurang ramah sehingga suasana hati menjadi tidak nyaman. Aku juga pernah melihat seseorang yang tidak berhijab diperlakukan kurang baik ketika datang ke masjid. Ada yang dipandang sinis, bahkan dianggap bukan seorang muslim.


Namun pada akhirnya, aku memilih untuk tidak menghakimi. Hanya Allah yang Maha Mengetahui isi hati setiap manusia dan memahami tujuan seseorang datang ke rumah-Nya. Tugasku hanyalah berusaha melakukan yang terbaik sesuai kemampuanku.


Semua yang kutulis di sini lahir dari pengalaman pribadi.


Semoga setiap pelajaran yang kutemukan dalam perjalanan hidup ini dapat menjadi manfaat bagi orang lain dan, jika Allah menghendaki, menjadi pahala jariyah yang terus mengalir.

7 Kata Jangan yang Akan Menyelamatkan Hidupmu

7/9/26

https://www.stafana.com/2026/07/kata-jangan-yang-akan-menyelamatkanmu.html


7 Kata "Jangan" yang Akan Menyelamatkan Hidupmu - Seiring bertambahnya usia, aku bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Dari semua pengalaman itu, ada beberapa pelajaran hidup yang menurutku sangat berharga. Jika bisa kembali ke masa lalu,  inilah tujuh kata "jangan" yang akan selalu kupegang.


1. Jangan Mencoba Narkoba, Rokok, dan Alkohol


Semakin dewasa, aku menyadari bahwa tidak sedikit lingkungan pergaulan yang menormalisasi rokok, alkohol, bahkan narkoba. Barang-barang haram itu ternyata jauh lebih mudah didapat daripada yang kita bayangkan.


Banyak orang akhirnya ikut mencoba hanya karena takut tidak punya teman atau takut dianggap berbeda. Padahal, jauh lebih baik sendirian dalam kebenaran daripada diterima dalam lingkungan yang menghancurkan masa depan.


Sekali mencoba bisa menjadi awal dari ketergantungan yang sulit dihentikan. Yang dipertaruhkan bukan hanya kesehatan, tetapi juga masa depan, keluarga, pekerjaan, bahkan kebebasanmu.


2. Jangan Berzina


Jika melihat generasi orang tua dulu, banyak yang menikah melalui perjodohan atau dipertemukan keluarga. Mereka tidak melalui masa pacaran yang panjang seperti sekarang.


Di zaman sekarang, pacaran sudah dianggap hal biasa, bahkan sejak usia yang sangat muda. Tidak sedikit remaja yang akhirnya terjerumus pada hubungan yang melampaui batas.

Allah telah mengingatkan dalam QS. Al-Isra ayat 32:

"Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan jalan yang buruk."


Perhatikan bahwa Allah tidak hanya melarang zina, tetapi juga melarang mendekatinya. Artinya, kita diperintahkan untuk menghindari segala hal yang bisa membawa kita ke arah perbuatan tersebut.


Aku juga pernah mendengar nasihat dari Ustadz Ibnu Abdil Bari:"Zina adalah utang. Jika seseorang berzina, maka akan ada balasannya, bahkan bisa mengenai keluarganya."


Terlepas dari bagaimana seseorang memahami nasihat tersebut, pesannya jelas: jagalah kehormatan diri dan hindari segala sesuatu yang dapat menyeret kita kepada perbuatan zina. Itu bukan hanya untuk menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga masa depan keluarga kita.


3. Jangan Salah Pergaulan


Di era digital, berkenalan dengan orang baru sangatlah mudah. Media sosial membuat kita bisa terhubung dengan siapa saja dalam hitungan detik.Namun, tidak semua orang membawa pengaruh yang baik. Lingkungan sangat menentukan arah hidup seseorang. Banyak kebiasaan buruk dimulai karena salah memilih teman.


Terutama bagi perempuan, sering kali mereka menjadi pihak yang paling dirugikan ketika berada dalam lingkungan yang tidak sehat. Karena itu, pilihlah teman yang menjaga nilai, menghargai batasan, dan membawamu menjadi pribadi yang lebih baik.


4. Jangan Meninggalkan Salat


Aku memiliki satu prinsip yang selalu kuingat:

"Kalau aku sudah salat lima waktu saja belum tentu masuk surga, apalagi jika aku meninggalkannya."


Kalimat itu selalu mengingatkanku bahwa salat bukan sekadar kewajiban, tetapi juga pengingat agar hidup tetap berada di jalan yang benar. Sesibuk apa pun kita, jangan sampai salat menjadi hal pertama yang ditinggalkan.


5. Jangan Sembarangan Meminjamkan Uang


Aku pernah bertemu dengan orang yang tidak tahu cara menghargai bantuan. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, ia meminjam uang belasan juta dengan janji akan mengembalikannya dalam dua bulan. Namun, hampir dua tahun berlalu, janji itu tidak pernah ditepati.


Yang paling ironis, ketika aku menagih sesuai kesepakatan, justru kami yang dianggap jahat. Orang yang memberi bantuan berubah seolah-olah menjadi pelaku, sedangkan orang yang berutang menempatkan dirinya sebagai korban.


Sejak saat itu, aku belajar bahwa tidak semua orang tahu cara menghargai kepercayaan dan bantuan yang diberikan kepadanya. Orang seperti itu kini masuk dalam daftar blacklist hidupku. Bukan karena aku menyimpan dendam, melainkan karena kepercayaan yang sudah rusak tidak mudah dibangun kembali.


Karena itulah, jika suatu hari aku ingin membantu seseorang, aku akan memberi sesuai kemampuan dan dengan keikhlasan, bukan dalam bentuk utang yang berpotensi merusak hubungan.


6. Jangan Boros


Pandemi mengajarkan kita bahwa kondisi ekonomi bisa berubah kapan saja. Hari ini pekerjaan ada, besok belum tentu. Nilai tukar mata uang bisa naik, harga kebutuhan pokok ikut meningkat, dan biaya hidup menjadi semakin berat.


Karena itu, jangan jadikan kenaikan gaji sebagai alasan untuk menaikkan gaya hidup. Berapa pun penghasilanmu, biasakan hidup di bawah kemampuanmu. Menekan pengeluaran adalah salah satu cara terbaik untuk menjaga masa depan finansial.


7. Jangan Berbuat Baik Jika Tidak Ikhlas


Menjadi orang yang selalu ingin menyenangkan semua orang people pleaser sering kali justru menyakiti diri sendiri.


Jangan memaksakan diri membantu hanya karena merasa tidak enak menolak. Jika dilakukan dengan terpaksa, pada akhirnya yang muncul adalah rasa kecewa, lelah, bahkan sakit hati.


Berbuat baiklah karena memang kamu ingin melakukannya, bukan karena tekanan atau rasa bersalah.Bantulah sebisamu, semampumu, dan dengan hati yang ikhlas. Tidak semua permintaan harus dipenuhi. Menolak dengan sopan bukan berarti menjadi orang yang jahat.


Hidup mengajarkan banyak hal, tetapi beberapa pelajaran datang dengan harga yang sangat mahal. - 7 Kata "Jangan" yang Akan Menyelamatkan Hidupmu.

Ekspektasi dan Realita Kelas Makeup

7/3/26
https://www.stafana.com/2026/07/ekspektasi-dan-realita-kelas-makeup.html



Beberapa waktu lalu aku mengikuti kelas makeup gratis untuk belajar merias diri sendiri.Sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku belajar makeup. Aku pernah mengikuti kelas berbayar, bahkan private. Jadi, saat melihat ada kelas gratis, alasanku ikut bukan karena benar-benar ingin belajar dari nol.


Aku hanya sedang menikmati waktu luang yang entah sampai kapan akan berlangsung. Daripada blogku semakin berdebu dan hari-hariku hanya diisi rebahan, aku memilih mencoba kegiatan baru. Siapa tahu ada pengalaman menarik yang bisa diceritakan.


Kelas ini berlangsung selama lima hari berturut-turut. Sayangnya, aku hanya mengikuti empat hari. Hari keempat aku memutuskan tidak datang karena badan sedang kurang enak. Sejujurnya, aku juga mulai merasa bosan.


Jumlah peserta yang terdaftar sekitar dua puluh orang, tetapi yang hadir setiap hari mungkin hanya sekitar delapan orang. Semua peserta membawa perlengkapan makeup masing-masing, sementara beberapa alat disediakan untuk dipakai bersama.


Jadwal kelas seharusnya dimulai pukul delapan pagi sampai tiga sore. Namun kenyataannya, kami sering baru mulai sekitar pukul sembilan dan selesai sekitar pukul dua siang.


Yang membuatku heran, durasi selama itu rasanya tidak benar-benar diperlukan. Aku hanya perlu sekitar dua jam untuk menyelesaikan makeup di wajahku sendiri. Setelah itu, waktunya lebih banyak diisi dengan obrolan yang tidak terlalu berhubungan dengan materi. Bahkan beberapa kali aku memilih tidur siang daripada ikut mengobrol karena merasa tidak ada lagi yang bisa kupelajari hari itu.



Materinya juga masih sangat dasar. Mungkin memang disesuaikan dengan peserta yang sebagian besar masih mahasiswa dan beberapa sedang tidak bekerja. Buat mereka yang baru mulai belajar makeup, materi ini mungkin cukup membantu.


Kalau ditanya apakah ada kemajuan? Tentu ada. Walaupun tidak banyak, setidaknya aku kembali mengingat teknik-teknik dasar dan mencoba beberapa hal yang sebelumnya jarang kulakukan sendiri.



Sebelum kelas dimulai, aku sebenarnya cukup antusias. Karena memang datang untuk belajar, aku memberanikan diri bertanya. Padahal aku termasuk orang yang cukup pemalu kalau berada di lingkungan baru.


https://www.stafana.com/2026/07/ekspektasi-dan-realita-kelas-makeup.html


Sayangnya, antusiasme itu tidak bertahan lama.


Ketika aku mengajukan pertanyaan lagi karena masih belum benar-benar paham, respons dari instruktur terasa seperti orang yang mulai kehilangan kesabaran. Seolah-olah bertanya dua kali berarti aku tidak mendengarkan penjelasannya. Aku langsung memilih diam.


Pengalaman itu membuatku teringat masa sekolah. Rasanya bukan cuma aku yang pernah mengalami guru atau pengajar yang menganggap murid tidak memperhatikan hanya karena bertanya ulang. Kadang responsnya berupa sindiran, kadang tatapan yang membuat kita berpikir lebih baik diam saja daripada dianggap bodoh.


Padahal belum tentu seseorang bertanya karena tidak mendengarkan. Bisa jadi ia memang sedang berusaha memahami.


Menurutku, hal-hal seperti ini tanpa sadar membentuk banyak orang menjadi takut berbicara. Takut mengajukan pertanyaan. Takut mengungkapkan pendapat. Takut dianggap lambat.


Padahal bukankah fungsi kelas memang menjadi tempat yang aman untuk belajar?


Karena alasan itulah aku memilih tidak menyebutkan nama penyelenggara kelas ini. Tujuanku bukan untuk menjatuhkan siapa pun. Pengalaman setiap orang tentu bisa berbeda, dan mungkin peserta lain merasa kelas ini sudah cukup baik.


Kalau soal hasil makeup, aku memang mendapat tambahan ilmu. Teknik menggambar alis yang diajarkan juga cukup rapi, hanya saja lebih sesuai dengan gaya yang berbeda dari seleraku. Belakangan ini aku lebih menyukai makeup ala Korea yang terlihat lebih natural dan ringan.


Pada akhirnya, pelajaran yang paling kuingat dari kelas ini justru bukan tentang foundation, cushion, atau cara menggambar alis.


Aku belajar bahwa kemampuan mengajar bukan hanya soal menguasai materi. Cara seorang instruktur merespons pertanyaan juga menentukan apakah peserta akan tetap berani belajar atau memilih diam.



Bangkit di Masa Career Break

7/2/26
https://www.stafana.com/2026/07/bangkit-di-masa-career-break.html



Pernah nggak kamu merasa hidup terasa berat saat sedang career break, menganggur, atau bekerja dari rumah? Aku pernah mengalami fase ini karena sebenarnya aku lebih suka bekerja dari rumah. Namun, ada satu kekurangan yang sering kurasakan adalah rasa bosan yang tiba-tiba datang tanpa alasan.

Saat tidak ada suasana kantor, rekan kerja, atau rutinitas yang mengatur hari, kita harus belajar menciptakan ritme dan motivasi sendiri.

Banyak orang berpikir hidup tanpa tekanan pekerjaan itu menyenangkan. Padahal, justru ketika tidak ada jadwal yang mengatur kita, rasa bosan, kehilangan arah, bahkan overthinking bisa datang kapan saja.

Selama bekerja dari rumah, aku menyadari bahwa produktif bukan soal bekerja lebih lama, tapi tentang membangun kebiasaan yang baik. Ini beberapa kebiasaan yang pelan-pelan mengubah hariku.

1. Bangun pagi

Ini terdengar sederhana, tapi justru menjadi tantangan terbesar buatku. Aku berusaha bangun pukul 04.30 WIB, lalu salat Subuh tepat waktu.

Kalau masih mengantuk, jangan langsung kembali ke tempat tidur. Aku biasanya melanjutkan dengan tadarus Al-Qur'an atau membaca beberapa halaman buku sampai rasa kantuk hilang.

Satu hal yang selalu aku hindari adalah membuka ponsel saat baru bangun tidur. Rasanya fokus langsung hilang. Sebagai gantinya, aku melihat keluar jendela, menikmati langit yang perlahan terang dan matahari yang mulai terbit.

2. Bergerak meski sebentar

Nggak harus olahraga berat. Jalan kaki ringan di sekitar rumah saja sudah cukup membuat badan terasa lebih segar. Kalau sedang benar-benar malas keluar, lakukan pemanasan atau jalan di tempat beberapa menit. Yang penting tubuh tetap bergerak.

3. Rapikan tempat dan rapikan diri

Aku selalu membereskan tempat tidur sebelum mulai beraktivitas. Kamar yang rapi membuat pikiran terasa lebih ringan.

Kalau memang harus bekerja di kamar, usahakan tetap mandi dan memakai pakaian yang rapi, seolah-olah sedang berangkat ke kantor. Jangan terus memakai baju tidur karena tubuh akan menganggap ini masih waktu untuk bermalas-malasan.

Kalau rumahmu dekat perpustakaan atau ruang publik yang nyaman, sesekali cobalah bekerja dari sana. Suasana baru bisa membantu mengembalikan semangat tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.

4. Jaga pola makan

Aku mulai menyadari bahwa makanan sangat memengaruhi suasana hati. Usahakan mengonsumsi makanan bergizi dengan protein yang cukup.

Kalau tubuh sakit atau mudah lelah, biasanya semangat untuk melakukan apa pun juga ikut hilang.

5. Kurangi membuka media sosial

Media sosial memang menyenangkan, tapi tanpa sadar kita sering mencari validasi dari jumlah view atau like.

Semakin sering melihat angka-angka itu, semakin mudah kita membandingkan hidup dengan orang lain. Karena itu, aku mulai membatasi waktu bermain media sosial dan hanya membukanya saat memang membutuhkan informasi atau ingin belajar sesuatu.

6. Pilih tontonan yang memberi manfaat

Aku tetap mencari hiburan, tapi tidak berlebihan.

Podcast, video edukasi, atau obrolan yang membuka wawasan membuat otak terus belajar dan memberiku perspektif baru.

7. Jaga lingkungan pergaulan

Kalau kamu merasa hidupmu tertinggal, percayalah... hampir semua orang sebenarnya sedang sibuk dengan kehidupannya sendiri.

Fokuslah pada perjalananmu. Lakukan hal yang kamu sukai, syukur-syukur bisa menghasilkan uang.

Aku juga belajar untuk menjaga jarak dari lingkungan yang dipenuhi gosip, rasa iri, atau kebiasaan mengeluh. Kadang, sendirian jauh lebih menenangkan daripada berada di lingkungan yang membuat energi kita habis.

8. Temukan komunitas

Punya komunitas membuat kita merasa tidak sendirian.

Kalau belum menemukan yang sesuai secara offline, manfaatkan internet untuk bergabung dengan komunitas online yang sesuai dengan minatmu.

9. Menulis jurnal

Saat kepala terasa berisik, aku memilih menulis.

Aku menuangkan semua pikiran di jurnal tanpa takut dihakimi siapa pun. Tidak semua hal harus diceritakan kepada orang lain. Kadang cukup kita, buku, dan Tuhan yang mengetahuinya.

10. Perbaiki ibadah

Kalau sedang memiliki waktu luang, manfaatkan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah.

Salat tepat waktu, belajar mengaji lebih baik, memperbanyak doa, dan melatih rasa syukur adalah hal-hal kecil yang ternyata membawa ketenangan.

11. Jangan begadang

Begadang sering kali membuat pikiranku semakin tidak tenang.

Kalau overthinking datang di malam hari, aku memilih menulis, membaca buku, atau melakukan hobi sampai pikiran lebih tenang daripada terus memaksakan diri terjaga.

12. Latih rasa syukur

Aku belajar bahwa tidak semua orang diberi kesempatan memiliki waktu luang.

Daripada terus mengeluh, aku mencoba menikmati fase ini sebagai waktu untuk belajar, memperbaiki diri, dan bertumbuh. Tidak semua proses harus terlihat cepat. Yang penting, setiap hari ada satu langkah kecil ke arah yang lebih baik.



Tulisan ini lahir dari pengalaman pribadiku. Aku masih terus belajar, masih sering gagal menjaga rutinitas, dan masih berusaha menjadi versi diriku yang lebih baik setiap harinya.


Semoga kalau kamu sedang berada di fase yang sama, kamu tahu bahwa kamu tidak sendirian. Pelan-pelan saja. Tetap bergerak, tetap bertumbuh, dan percayalah bahwa setiap proses memiliki waktunya sendiri.

Hidup Terlalu Luas untuk Ditakuti

6/15/26
https://www.stafana.com/2026/06/hidup-terlalu-luas-untuk-ditakuti.html



Tahun 2026 banyak mengajarkanku hal baru. Banyak kejadian yang terjadi, bahkan hal-hal yang dulu aku benci sekarang justru menjadi sesuatu yang aku sukai. Dari situ aku sadar kalau manusia memang selalu berubah. Pengalaman hidup bisa mengubah cara berpikir, sifat, dan pilihan seseorang, entah menjadi lebih baik atau lebih buruk.



Selama ini aku sebenarnya sudah tahu hal itu, tapi masih sering menyangkalnya. Aku terlalu mudah percaya bahwa seseorang akan selalu tetap sama, padahal kenyataannya tidak. Di tengah kondisi negara yang sedang tidak baik-baik saja, satu hal yang paling aku percaya hanyalah diriku sendiri. Karena pada akhirnya, hanya aku yang bisa bertanggung jawab atas hidup dan keputusan yang kuambil.



Aku pernah bingung setiap kali ditanya apa hobiku saat masih kecil. Jawabanku selalu, "membaca." Padahal yang paling sering kubaca hanyalah komik dan novel yang menghibur. Di sisi lain, aku juga sadar kalau aku suka menulis di buku, meski tulisanku tidak pernah bagus. Lama-lama aku menyadari bahwa ternyata aku menyukai banyak hal dan selalu bingung jika harus memilih hanya satu.



Sekarang aku mengerti, hobi tidak harus hanya satu. Kita bisa menyukai banyak hal, hanya saja tidak semuanya bisa kita lakukan dalam waktu yang bersamaan. Aku suka memasak, meski sepertinya aku lebih cocok membuat masakan rumahan. Aku juga suka makeup, merias wajahku sendiri agar lebih percaya diri tanpa harus pergi ke MUA yang biayanya tidak murah.



Aku juga mulai suka berkenalan dengan orang baru, sesuatu yang sangat berbeda dari diriku yang dulu. Aku suka membuat latte art, sampai akhirnya memutuskan belajar tentang kopi dari hulu sampai hilir. Pernah ada seseorang yang berkata kepadaku bahwa tidak semua hal harus dicoba. Tapi aku selalu meyakinkan diriku sendiri bahwa selama itu baik, sesuai minat, dan tidak haram untuk dilakukan, aku akan mencobanya. 



Karena bagiku, hidup terlalu luas untuk dijalani dengan rasa takut. Aku ingin terus belajar, terus bertumbuh, dan memberi kesempatan pada diriku sendiri untuk menemukan hal-hal yang mungkin suatu hari akan menjadi bagian dari diriku.



Hobi menulis, membuat konten, dan belajar tentang kopi adalah beberapa hal yang aku sukai. Menariknya, semuanya juga bisa menghasilkan uang. Tapi ada satu nilai yang selalu aku pegang sejak dulu. Selama pekerjaanku membuatku sulit beribadah atau membuatku merasa tidak nyaman menjalankan keyakinanku, aku akan percaya bahwa tempat itu memang bukan tempatku.



Aku pernah mencoba masuk ke dunia modeling. Sayangnya, pengalaman pertamaku justru membuatku sadar bahwa aku berada di lingkungan yang kurang tepat untuk diriku. Saat itu hanya aku yang memilih meluangkan waktu untuk salat, dan aku merasakan sendiri bagaimana ibadah seolah dianggap mengganggu pekerjaan.



Bahkan pernah juga ada momen ketika aku dilarang salat oleh seseorang yang bekerja sebagai MUA. Padahal hari itu aku hanya mendapat satu kali makan tanpa bayaran. Pengalaman-pengalaman seperti itu membuatku semakin paham tentang batas yang ingin aku jaga dalam hidup.



Sekarang aku mulai mengerti mengapa ada tempat kerja yang mencari orang-orang yang menjaga ibadahnya. Bukan semata-mata soal identitas, tetapi karena mereka berharap menemukan orang yang memiliki nilai, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa setiap perbuatannya dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.



Aku juga sadar bahwa rajin beribadah bukan jaminan seseorang pasti baik, dan orang yang berbeda keyakinan pun bisa menjadi pribadi yang sangat baik. Namun untuk diriku sendiri, aku ingin berada di lingkungan yang menghormati ibadah dan membiarkanku tetap menjalankan prinsip yang kupegang.



Ini tentang aku, bukan tentangmu. Pengalamanku mungkin berbeda dengan pengalaman hidupmu. Tapi satu hal yang selalu kupercaya, setiap kejadian selalu membawa hikmah dan mengajarkanku menjadi pribadi yang lebih baik.

Auto Post Signature

Auto Post  Signature