Top Social

Image Slider

IBX59CC0B1F0120F
Showing posts with label TUMBUH BERSAMA WAKTU. Show all posts
Showing posts with label TUMBUH BERSAMA WAKTU. Show all posts

Menemukan Rumah Bagi Jiwa

7/15/26
https://www.stafana.com/2026/07/menemukan-rumah-bagi-jiwa.html


Waktu masih sekolah, aku sering merasa ada yang aneh dengan diriku. Aku tidak nyaman berada di tempat yang ramai. Rasanya seperti tubuhku mengecil, kehilangan keberanian, meskipun aku sendiri tidak tahu apa penyebabnya.


Aku juga hanya bisa memiliki dua hingga empat teman dekat. Jika berada dalam kelompok yang lebih besar atau terlalu lama berada di tengah keramaian, aku mulai merasa tidak nyaman. Dulu aku menganggap ada yang salah dengan diriku.


Namun, seiring bertambahnya usia dan berbagai pelajaran hidup yang kulewati, aku mulai memahami bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menjalani hidup dan bersosialisasi.


Aku bisa merasa sangat kesepian di tengah keramaian, tetapi justru merasa penuh ketika sedang sendiri.


Aku terus belajar mengenal diriku sendiri. Aku percaya bahwa mencari jati diri bukan berarti menemukan versi yang sempurna, melainkan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik daripada diriku yang kemarin. Semua pelajaran hidup yang kutemui hari ini juga ingin kupegang hingga akhir hayat, termasuk jika suatu saat nanti aku diberi kesempatan untuk mendidik anak.


Aku sadar bahwa hidup ini hanya sementara. Aku percaya manusia akan menjalani dua kehidupan: kehidupan di dunia yang akan berakhir dengan kematian, dan kehidupan yang kekal di akhirat. Kesadaran itulah yang membuatku belajar menikmati kesendirian.


Aku memilih hidup tanpa bergantung pada banyak orang daripada harus mempertahankan hubungan yang justru membuatku melakukan hal-hal yang seharusnya tidak kulakukan. Sampai hari ini, aku tidak pernah menyesali prinsip itu.


Dalam perjalanan hidupku, ada dua tempat yang selalu membuatku merasa pulang.


Perpustakaan: Rumah Pertama untuk Kehidupan Dunia



Cara belajarku lebih bersifat kinestetik. Aku lebih mudah memahami sesuatu melalui praktik dan pengalaman dibandingkan hanya membaca teori. Karena itu, sejak kecil aku lebih menyukai bacaan ringan seperti komik, buku anak-anak, dan novel. Di antara semuanya, kisah para nabi selalu menjadi favoritku.


Aku juga jarang memiliki akses terhadap buku. Harga buku cukup mahal, sementara perpustakaan di sekolahku dulu lebih banyak berisi buku pelajaran daripada buku bacaan dengan berbagai tema.


Ketika bekerja sebagai content creator, alat utamaku adalah handphone. Hobiku saat itu hanyalah menulis diary di blog. Anehnya, semakin lama aku justru mulai menyukai kegiatan membaca dan menulis menggunakan bolpoin. Tulisan tanganku memang tidak rapi, tetapi selama masih bisa dibaca, aku tidak lagi memikirkannya.


Percaya atau tidak, pernah ada masa ketika aku tidak sanggup membaca satu halaman penuh. Baru beberapa menit membaca, aku sudah merasa lelah dan sangat mengantuk. Sering kali aku hanya membaca sinopsis di bagian belakang buku.


Sampai akhirnya aku menemukan sebuah konten di Instagram yang menjelaskan mengapa membaca terasa berat di awal. Otak memang dirancang untuk menghemat energi. Video bergerak, suara, dan gambar membuat informasi masuk tanpa banyak usaha. Sebaliknya, membaca memaksa otak membangun gambaran, menghubungkan ide, dan memahami makna dari setiap kalimat. Karena itulah membaca membutuhkan usaha lebih besar, terutama bagi orang yang belum terbiasa.


Penjelasan sederhana itu mengubah cara pandangku. Aku berhenti menyalahkan diriku sendiri dan mulai membiasakan diri membaca sedikit demi sedikit.


Hari ini, ketika menulis artikel ini, aku sedang duduk di Perpustakaan Monumen Pers Surakarta. Aku datang sekitar pukul 09.10 pagi.


Aku menikmati masa ketika belum bekerja dan bisa menghabiskan waktu di perpustakaan. Ruangan yang sejuk, rak-rak buku yang tertata rapi, dan suasana yang tenang membuatku perlahan jatuh cinta pada buku, bahkan buku-buku yang dulu tidak pernah menarik perhatianku.


Kalau hari ini ada seseorang yang sedang berjuang membangun kebiasaan membaca, aku hanya ingin mengatakan: nikmati prosesnya. Suka atau tidak suka, cobalah jatuh cinta kepada buku.


Buku tidak pernah mengkhianati.


Jika suatu saat kamu ditertawakan oleh orang-orang yang sudah membaca banyak buku atau dianggap kurang pintar karena baru mulai membaca, percayalah bahwa kamu tidak lebih rendah dari mereka.


Semakin banyak membaca, seharusnya seseorang menjadi semakin rendah hati, semakin berempati, dan semakin sadar bahwa masih banyak hal yang belum ia ketahui.


Daripada terus-menerus memenuhi pikiran dengan konten media sosial yang cepat berlalu, cobalah memberi ruang untuk buku. Mungkin buku tidak akan langsung mengubah hidupmu, tetapi sedikit demi sedikit ia akan membentukmu menjadi pribadi yang lebih baik daripada dirimu yang dahulu.


Baca juga:

7 Kata Jangan yang Akan Menyelamatkan Hidupmu


Masjid: Rumah Kedua untuk Kehidupan Akhirat



Aku bersyukur pernah tinggal di dekat masjid ketika masih kecil. Aku masih mengingat suasana kampung saat salat tarawih berjamaah di bulan Ramadan. Kenangan sederhana itu ternyata membekas sangat dalam dan membentuk diriku hingga sekarang.


Sejak memahami ibadah i'tikaf, aku semakin sering datang ke masjid. Hampir selalu sendirian.


Aku sering bertemu para orang tua yang rutin beribadah. Aku hampir selalu menjadi salah satu jamaah termuda di sana. Barisan jamaah perempuan biasanya tidak terlalu ramai, sementara barisan laki-laki jauh lebih penuh. Meski begitu, aku tetap merasa damai berada di rumah Allah.


Ketika aku merindukan Tuhan, aku tahu ke mana harus pergi. Ke mana pun aku berada nanti, dua tempat pertama yang akan kucari adalah perpustakaan dan masjid.


Meskipun begitu, aku juga sadar bahwa tidak ada tempat yang benar-benar sempurna. Kadang kita bertemu pengurus yang kurang ramah sehingga suasana hati menjadi tidak nyaman. Aku juga pernah melihat seseorang yang tidak berhijab diperlakukan kurang baik ketika datang ke masjid. Ada yang dipandang sinis, bahkan dianggap bukan seorang muslim.


Namun pada akhirnya, aku memilih untuk tidak menghakimi. Hanya Allah yang Maha Mengetahui isi hati setiap manusia dan memahami tujuan seseorang datang ke rumah-Nya. Tugasku hanyalah berusaha melakukan yang terbaik sesuai kemampuanku.


Semua yang kutulis di sini lahir dari pengalaman pribadi.


Semoga setiap pelajaran yang kutemukan dalam perjalanan hidup ini dapat menjadi manfaat bagi orang lain dan, jika Allah menghendaki, menjadi pahala jariyah yang terus mengalir.

7 Kata Jangan yang Akan Menyelamatkan Hidupmu

7/9/26

https://www.stafana.com/2026/07/kata-jangan-yang-akan-menyelamatkanmu.html


7 Kata "Jangan" yang Akan Menyelamatkan Hidupmu - Seiring bertambahnya usia, aku bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Dari semua pengalaman itu, ada beberapa pelajaran hidup yang menurutku sangat berharga. Jika bisa kembali ke masa lalu,  inilah tujuh kata "jangan" yang akan selalu kupegang.


1. Jangan Mencoba Narkoba, Rokok, dan Alkohol


Semakin dewasa, aku menyadari bahwa tidak sedikit lingkungan pergaulan yang menormalisasi rokok, alkohol, bahkan narkoba. Barang-barang haram itu ternyata jauh lebih mudah didapat daripada yang kita bayangkan.


Banyak orang akhirnya ikut mencoba hanya karena takut tidak punya teman atau takut dianggap berbeda. Padahal, jauh lebih baik sendirian dalam kebenaran daripada diterima dalam lingkungan yang menghancurkan masa depan.


Sekali mencoba bisa menjadi awal dari ketergantungan yang sulit dihentikan. Yang dipertaruhkan bukan hanya kesehatan, tetapi juga masa depan, keluarga, pekerjaan, bahkan kebebasanmu.


2. Jangan Berzina


Jika melihat generasi orang tua dulu, banyak yang menikah melalui perjodohan atau dipertemukan keluarga. Mereka tidak melalui masa pacaran yang panjang seperti sekarang.


Di zaman sekarang, pacaran sudah dianggap hal biasa, bahkan sejak usia yang sangat muda. Tidak sedikit remaja yang akhirnya terjerumus pada hubungan yang melampaui batas.

Allah telah mengingatkan dalam QS. Al-Isra ayat 32:

"Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan jalan yang buruk."


Perhatikan bahwa Allah tidak hanya melarang zina, tetapi juga melarang mendekatinya. Artinya, kita diperintahkan untuk menghindari segala hal yang bisa membawa kita ke arah perbuatan tersebut.


Aku juga pernah mendengar nasihat dari Ustadz Ibnu Abdil Bari:"Zina adalah utang. Jika seseorang berzina, maka akan ada balasannya, bahkan bisa mengenai keluarganya."


Terlepas dari bagaimana seseorang memahami nasihat tersebut, pesannya jelas: jagalah kehormatan diri dan hindari segala sesuatu yang dapat menyeret kita kepada perbuatan zina. Itu bukan hanya untuk menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga masa depan keluarga kita.


3. Jangan Salah Pergaulan


Di era digital, berkenalan dengan orang baru sangatlah mudah. Media sosial membuat kita bisa terhubung dengan siapa saja dalam hitungan detik. Namun, tidak semua orang membawa pengaruh yang baik. Lingkungan sangat menentukan arah hidup seseorang. Banyak kebiasaan buruk dimulai karena salah memilih teman.


Terutama bagi perempuan, sering kali mereka menjadi pihak yang paling dirugikan ketika berada dalam lingkungan yang tidak sehat. Karena itu, pilihlah teman yang menjaga nilai, menghargai batasan, dan membawamu menjadi pribadi yang lebih baik.


4. Jangan Meninggalkan Salat


Aku memiliki satu prinsip yang selalu kuingat:

"Kalau aku sudah salat lima waktu saja belum tentu masuk surga, apalagi jika aku meninggalkannya."


Kalimat itu selalu mengingatkanku bahwa salat bukan sekadar kewajiban, tetapi juga pengingat agar hidup tetap berada di jalan yang benar. Sesibuk apa pun kita, jangan sampai salat menjadi hal pertama yang ditinggalkan.


5. Jangan Sembarangan Meminjamkan Uang


Aku pernah bertemu dengan orang yang tidak tahu cara menghargai bantuan. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, ia meminjam uang belasan juta dengan janji akan mengembalikannya dalam dua bulan. Namun, hampir dua tahun berlalu, janji itu tidak pernah ditepati.


Yang paling ironis, ketika aku menagih sesuai kesepakatan, justru kami yang dianggap jahat. Orang yang memberi bantuan berubah seolah-olah menjadi pelaku, sedangkan orang yang berutang menempatkan dirinya sebagai korban.


Sejak saat itu, aku belajar bahwa tidak semua orang tahu cara menghargai kepercayaan dan bantuan yang diberikan kepadanya. Orang seperti itu kini masuk dalam daftar blacklist hidupku. Bukan karena aku menyimpan dendam, melainkan karena kepercayaan yang sudah rusak tidak mudah dibangun kembali.


Karena itulah, jika suatu hari aku ingin membantu seseorang, aku akan memberi sesuai kemampuan dan dengan keikhlasan, bukan dalam bentuk utang yang berpotensi merusak hubungan.


6. Jangan Boros


Pandemi mengajarkan kita bahwa kondisi ekonomi bisa berubah kapan saja. Hari ini pekerjaan ada, besok belum tentu. Nilai tukar mata uang bisa naik, harga kebutuhan pokok ikut meningkat, dan biaya hidup menjadi semakin berat.


Karena itu, jangan jadikan kenaikan gaji sebagai alasan untuk menaikkan gaya hidup. Berapa pun penghasilanmu, biasakan hidup di bawah kemampuanmu. Menekan pengeluaran adalah salah satu cara terbaik untuk menjaga masa depan finansial.


7. Jangan Berbuat Baik Jika Tidak Ikhlas


Menjadi orang yang selalu ingin menyenangkan semua orang people pleaser sering kali justru menyakiti diri sendiri.


Jangan memaksakan diri membantu hanya karena merasa tidak enak menolak. Jika dilakukan dengan terpaksa, pada akhirnya yang muncul adalah rasa kecewa, lelah, bahkan sakit hati.


Berbuat baiklah karena memang kamu ingin melakukannya, bukan karena tekanan atau rasa bersalah. Bantulah sebisamu, semampumu, dan dengan hati yang ikhlas. Tidak semua permintaan harus dipenuhi. Menolak dengan sopan bukan berarti menjadi orang yang jahat.


Hidup mengajarkan banyak hal, tetapi beberapa pelajaran datang dengan harga yang sangat mahal. - 7 Kata "Jangan" yang Akan Menyelamatkan Hidupmu.

Hidup Terlalu Luas untuk Ditakuti

6/15/26
https://www.stafana.com/2026/06/hidup-terlalu-luas-untuk-ditakuti.html



Tahun 2026 banyak mengajarkanku hal baru. Banyak kejadian yang terjadi, bahkan hal-hal yang dulu aku benci sekarang justru menjadi sesuatu yang aku sukai. Dari situ aku sadar kalau manusia memang selalu berubah. Pengalaman hidup bisa mengubah cara berpikir, sifat, dan pilihan seseorang, entah menjadi lebih baik atau lebih buruk.



Selama ini aku sebenarnya sudah tahu hal itu, tapi masih sering menyangkalnya. Aku terlalu mudah percaya bahwa seseorang akan selalu tetap sama, padahal kenyataannya tidak. Di tengah kondisi negara yang sedang tidak baik-baik saja, satu hal yang paling aku percaya hanyalah diriku sendiri. Karena pada akhirnya, hanya aku yang bisa bertanggung jawab atas hidup dan keputusan yang kuambil.



Aku pernah bingung setiap kali ditanya apa hobiku saat masih kecil. Jawabanku selalu, "membaca." Padahal yang paling sering kubaca hanyalah komik dan novel yang menghibur. Di sisi lain, aku juga sadar kalau aku suka menulis di buku, meski tulisanku tidak pernah bagus. Lama-lama aku menyadari bahwa ternyata aku menyukai banyak hal dan selalu bingung jika harus memilih hanya satu.



Sekarang aku mengerti, hobi tidak harus hanya satu. Kita bisa menyukai banyak hal, hanya saja tidak semuanya bisa kita lakukan dalam waktu yang bersamaan. Aku suka memasak, meski sepertinya aku lebih cocok membuat masakan rumahan. Aku juga suka makeup, merias wajahku sendiri agar lebih percaya diri tanpa harus pergi ke MUA yang biayanya tidak murah.



Aku juga mulai suka berkenalan dengan orang baru, sesuatu yang sangat berbeda dari diriku yang dulu. Aku suka membuat latte art, sampai akhirnya memutuskan belajar tentang kopi dari hulu sampai hilir. Pernah ada seseorang yang berkata kepadaku bahwa tidak semua hal harus dicoba. Tapi aku selalu meyakinkan diriku sendiri bahwa selama itu baik, sesuai minat, dan tidak haram untuk dilakukan, aku akan mencobanya. 



Karena bagiku, hidup terlalu luas untuk dijalani dengan rasa takut. Aku ingin terus belajar, terus bertumbuh, dan memberi kesempatan pada diriku sendiri untuk menemukan hal-hal yang mungkin suatu hari akan menjadi bagian dari diriku.



Hobi menulis, membuat konten, dan belajar tentang kopi adalah beberapa hal yang aku sukai. Menariknya, semuanya juga bisa menghasilkan uang. Tapi ada satu nilai yang selalu aku pegang sejak dulu. Selama pekerjaanku membuatku sulit beribadah atau membuatku merasa tidak nyaman menjalankan keyakinanku, aku akan percaya bahwa tempat itu memang bukan tempatku.



Aku pernah mencoba masuk ke dunia modeling. Sayangnya, pengalaman pertamaku justru membuatku sadar bahwa aku berada di lingkungan yang kurang tepat untuk diriku. Saat itu hanya aku yang memilih meluangkan waktu untuk salat, dan aku merasakan sendiri bagaimana ibadah seolah dianggap mengganggu pekerjaan.



Bahkan pernah juga ada momen ketika aku dilarang salat oleh seseorang yang bekerja sebagai MUA. Padahal hari itu aku hanya mendapat satu kali makan tanpa bayaran. Pengalaman-pengalaman seperti itu membuatku semakin paham tentang batas yang ingin aku jaga dalam hidup.



Sekarang aku mulai mengerti mengapa ada tempat kerja yang mencari orang-orang yang menjaga ibadahnya. Bukan semata-mata soal identitas, tetapi karena mereka berharap menemukan orang yang memiliki nilai, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa setiap perbuatannya dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.



Aku juga sadar bahwa rajin beribadah bukan jaminan seseorang pasti baik, dan orang yang berbeda keyakinan pun bisa menjadi pribadi yang sangat baik. Namun untuk diriku sendiri, aku ingin berada di lingkungan yang menghormati ibadah dan membiarkanku tetap menjalankan prinsip yang kupegang.



Ini tentang aku, bukan tentangmu. Pengalamanku mungkin berbeda dengan pengalaman hidupmu. Tapi satu hal yang selalu kupercaya, setiap kejadian selalu membawa hikmah dan mengajarkanku menjadi pribadi yang lebih baik.

3 Kebiasaan yang Membuat Klien Tetap Setia

2/1/24
https://www.stafana.com/2024/02/menjaga-kebiasaan-agar-klien-tetap-setia.html


Dalam era di mana teknologi memungkinkan kita memberikan peluang besar untuk mendapatkan penghasilan tanpa harus bekerja di kantor, terdapat tiga kebiasaan krusial yang seringkali diabaikan namun mampu menjaga kesetiaan klien.


Di Indonesia, budaya literasi yang minim serta kecenderungan orang-orang yang sulit datang tepat waktu. Seringkali mengabaikan pentingnya kebiasaan-kebiasaan ini. Bagi mereka yang sedang meniti karier, membangun hubungan yang kokoh dengan klien menjadi kunci.


Ketiga kebiasaan ini menjadi kunci utama untuk memenangkan hati klien dan mempertahankan kolaborasi jangka panjang. Tanpa perlu bersusah payah dalam mencari pekerjaan, kamu bisa menjaga kebiasaan ini agar klien yang ada tetap setia dan memberikanmu banyak cuan.


Apa Saja Kunci Tiga Kebiasaan Tersebut?


 1. Ketepatan Waktu

Hadir tepat waktu mencerminkan komitmen, keteraturan, dan profesionalisme. Orang yang menghargai waktu juga menghormati waktu orang lain, yang merupakan landasan penting dalam hubungan kerja yang sehat. Kalau kamu sedang kerja di kantor maupun dari rumah, penting untuk selalu tepat waktu.


Tidak enak menunggu orang lain, jadi lebih baik jika kita bisa datang atau mengerjakan tugas sesuai waktu yang disepakati. Kalau sering terlambat, orang mungkin akan pikir kita kurang profesional. Jadi, baik bekerja di kantor maupun di rumah, tepat waktu itu penting!


2. Mencatat Prioritas

Bekerja dengan seseorang yang sering lupa dan enggan mencari solusi dapat menjadi tantangan serius dalam lingkungan kerja. Rasanya mungkin penuh dengan frustrasi dan kelelahan karena seringkali memerlukan pengulangan tugas serta pengecekan berulang.


Meskipun sifat tersebut adalah hal yang manusiawi, namun jika kebiasaan tersebut mengganggu alur kerja dan produktivitas, hal itu bisa menjadi hambatan bagi tim dan proyek yang sedang dikerjakan. 


Membuat catatan di buku, cara sederhana seperti membuat daftar apa yang paling penting untuk dikerjakan. Dengan begitu, kita tahu harus fokus pada apa yang benar-benar penting dan tidak terganggu dengan hal-hal lain yang kurang penting. Ini membantu kita menggunakan waktu dan energi dengan lebih baik.


3. Menyelesaikan Tugas Tanpa Menghosting

Seringkali aku menemui orang yang diberi waktu lama untuk mengerjakan tugas, tapi mereka akhirnya menghilang dan tidak memberikan kabar. Pekerjaan pun terbengkalai dan klien kecewa. Tentu saja, klien tidak akan mau melanjutkan pekerjaan karena orang yang tidak bertanggung jawab seperti itu merugikan mereka.


Orang yang tidak bertanggung jawab akan merugikan banyak pihak dan dapat merusak reputasi manajemen, kantor, atau perusahaan. Oleh karena itu, penting untuk memilih rekan kerja yang dapat dipercaya dan bertanggung jawab.


Baca juga : Catatan Perjalanan Sepanjang 2023


Mengapa Kebiasaan-Kebiasaan Ini Penting?


  • Ketepatan waktu membangun kepercayaan dan menjaga alur kerja yang lancar.
  • Mencatat prioritas membantu menghindari kebingungan dan kehilangan fokus.
  • Menyelesaikan tugas tanpa menghosting menunjukkan integritas dan kualitas kerja yang tinggi.
https://www.stafana.com/2024/02/menjaga-kebiasaan-agar-klien-tetap-setia.html

  • Kebiasaan ini menciptakan lingkungan kerja yang efisien dan efektif.
  • Membangun reputasi sebagai individu yang dapat diandalkan dan profesional.
  • Menarik klien dan rekan kerja yang berkualitas karena reputasi yang terjaga.
https://www.stafana.com/2024/02/menjaga-kebiasaan-agar-klien-tetap-setia.html


Bagaimana Pengalaman Pribadi Menjadi Bukti Kebiasaan-Kebiasaan Ini?


Sejak tahun 2017, pengalamanku dalam dunia freelance telah terbukti efektif berkat tiga kebiasaan ini. Dengan mengutamakan ketepatan waktu, mencatat prioritas, dan menyelesaikan tugas tanpa menghosting dan sesuai brief, aku telah berhasil membangun hubungan profesional yang kuat dan saling menguntungkan dengan klien. Klienku yang dulu masih setia sampai sekarang.


Kamu tidak pernah tahu bahwa orang yang sedang kamu hadapi saat ini mungkin akan menghubungkan dengan banyak klien di masa depan. Oleh karena itu, bertanggung jawablah setiap kali menerima pekerjaan. Jaga kepercayaan itu atau kamu mungkin akan menyesalinya.


Terkadang klien juga memintaku untuk mencari orang yang bisa melakukan suatu pekerjaan, namun aku tidak pernah memberikan pekerjaan kepada orang yang tidak disiplin dan tidak bertanggung jawab karena dengan merekomendasikan orang - orang seperti itu dapat merusak reputasi ku.


"Semoga tulisan ini memberikan manfaat bagi kamu yang sedang mencari pekerjaan. Di manapun kamu berada, lakukanlah pekerjaan yang halal dengan penuh profesionalisme."

Catatan Perjalanan Pribadi Sepanjang Tahun 2023

1/2/24
https://www.stafana.com/2024/01/catatan-perjalanan-pribadi-2023.html


Tahun 2023 menjadi lembaran hidup yang tak terlupakan, diisi dengan kisah-kisah berharga dan hikmah yang membentuk diri ini. Seiring waktu berlalu, perjalanan ini melibatkan tantangan, kegembiraan, dan tangisan. Tumbuh bersama waktu bukan hanya tentang bertambahnya usia, melainkan bagaimana setiap detik berkontribusi pada pertumbuhan diri.


Melalui pengalaman ini, aku meresapi makna kehidupan di dalam setiap momen dan menyadari bahwa terkadang, tumbuh bersama waktu tidak selalu sejalan dengan harapan.


Sepanjang Tahun 2023


1. Jangan pernah tinggalkan Sholat!


https://www.stafana.com/2024/01/catatan-perjalanan-pribadi-2023.html


Aku pernah bertanya pada diri sendiri, ketika melihat lowongan pekerjaan yang memberikan syarat "wajib solat 5 waktu dan bisa mengaji". Aku merasa semua orang melakukan itu jika mereka beragama Islam, karena apapun alasannya, kita tetap tidak boleh meninggalkan sholat.


Membaca Al-qur'an hukumnya (fardhu kifayah) di mana sebagian umat Muslim diharapkan untuk melakukannya sehingga tidak menjadi suatu kewajiban bagi seluruh umat.


Namun, kenyataannya, ketika aku masuk SMP negeri, banyak sekali teman-teman yang sholatnya masih bolong-bolong. Bisa diketahui jika kamu sering bermain bersama temanmu apalagi melewati jam sholat. Salah satu temanku mengatakan dengan gampang, "Apakah kamu sholat? Ah, tidak mungkin," dan laki-laki itu juga bilang di keluarganya memang sholatnya kadang-kadang.


Sholat bukan lagi sekadar sebuah kewajiban, melainkan sebuah kebutuhan. Aku merasakannya ketika sholat memberikan kekuatan yang memungkinkanku bertahan di tengah-tengah ketidakadilan hidup ini.


Aku bisa tetap bertahan tanpa ragu meninggalkan sholat, terutama di zaman sekarang di mana sulit menemukan orang yang konsisten sholat 5 waktu.


Menurut logikaku, pertanyaan utama di alam kubur bukanlah seputar gelar atau jabatan, melainkan tentang sholat. Sholat setiap hari bukan jaminan masuk surga, belum tentu diterima, namun aku tetap menjalankannya dengan harapan masih memiliki peluang masuk surga. Ini menjadi cara bagiku untuk tetap rendah hati dan tidak menjauh dari Rabbku.


Aku yakin bahwa sholat adalah suatu amal ibadah yang dapat menjaga koneksi spiritualku dengan Tuhan dan mengajarkan kepatuhan serta ketaatan.


Oleh karena itu, aku berkomitmen untuk tetap menjalankan sholat sebagai bentuk ketaatan dan usaha agar tetap berada di jalan yang diridhai oleh-Nya.


Dengan menjaga kewajiban sholat, aku selalu diingatkan untuk tidak pernah merasa sombong terhadap manusia lain. Menyadari bahwa tidak pernah tahu apa yang tengah dilakukan oleh para pendosa lain, termasuk diriku sendiri.


Mungkin mereka sedang memperbanyak istighfar dan mendekatkan diri kepada Tuhan, jauh lebih sering dari apa yang aku lakukan.


2. Menjaga Pergulan


Perubahan budaya dan norma sosial di era zaman sekarang dapat menciptakan tantangan tersendiri, terutama dalam menjaga nilai-nilai moral dan agama. Fenomena seperti kumpul kebo, merokok, dan mabok tanpa batasan merupakan refleksi dari perubahan budaya dan pandangan hidup yang beragam.


Bagi individu yang berusaha untuk menjaga dan melaksanakan perintah agama, seringkali mereka merasa dihadapkan pada tekanan sosial atau bahkan dianggap aneh. Hal ini bisa menimbulkan konflik antara nilai-nilai agama dan norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat. 


Teruslah berdoa kepada Allah SWT untuk mendapatkan kekuatan dan petunjuk dalam menghadapi tantangan serta meletakkan tawakal (kepercayaan penuh) kepada-Nya.


3. Solo Travelling


https://www.stafana.com/2024/01/catatan-perjalanan-pribadi-2023.html


Salah satu hal yang paling aku suka dari pengalaman hidup adalah "solo travelling", berjalan sendiri menelusuri kota, tidak peduli dengan orang yang akan melihatku. Dengan berbekal uang, air minum, dan buku. Aku bisa lebih mengenal diriku sendiri. Jika kamu beruntung kamu akan mendapatkan teman baru.


Solo travelling juga meningkatkan skill dalam menghadapi situasi yang tidak terduga dan untuk beradaptasi secara mandiri. Namun kamu tetap selalu berhati-hati dalam berbicara dan beperilaku, tetap ikuti aturan di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.


4. Jangan Boros


https://www.stafana.com/2024/01/catatan-perjalanan-pribadi-2023.html


Jangan boros, selalu memahami prioritas, dan menjaga hidup yang tenang dengan tidak berurusan "utang-piutang" kepada siapapun termasuk keluarga adalah prinsip bijak. Hal yang dapat diperhatikan untuk mengamankan kondisi finansial dengan melibatkan manajemen keuangan yang baik.


5. Merantau dengan Biaya Sendiri


Pengalaman merantau dengan biaya sendiri dapat menjadi bagian penting dari proses pertumbuhan dan persiapan sebelum memutuskan untuk menikah.


  • Mandiri dan Bertanggung Jawab

Merantau memaksa aku untuk menjadi lebih mandiri dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri.

  • Kemampuan Mengelola Uang

Pengalaman ini dapat membantu diriku memahami nilai uang, membuat anggaran, dan belajar untuk hidup sesuai kemampuan finansial.

  • Keahlian Masak dan Pemeliharaan Diri

Tanpa dukungan keluarga, aku belajar untuk memasak, membersihkan, dan merawat diri sendiri.

  • Pengembangan Keterampilan Sosial

Aku bisa mengasah keterampilan sosial dan kemampuan beradaptasi dengan berbagai situasi sosial.


6. Stop Micro-cheating!


https://www.stafana.com/2024/01/catatan-perjalanan-pribadi-2023.html



Istilah yang digunakan untuk merujuk pada perilaku kecil dan subtil yang mungkin mengindikasikan ketertarikan atau keterlibatan emosional dengan orang selain pasangan dalam suatu hubungan.


Tidak mencakup hubungan fisik atau perselingkuhan langsung, mereka dapat dianggap sebagai bentuk pengkhianatan emosional atau perilaku yang tidak setia.


Aku tidak pernah menjadi pelaku micro-cheating, tetapi seringkali menemukan laki-laki yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi yang tidak masuk akal. Saat dihadapi perempuan yang bersikap ramah dengan etika yang baik (basic manner bukan flirting), mereka merasa perempuan itu menyukainya.


Padahal jika kalian tahu, penampilannya di bawah standar laki-laki Indonesia. Yang artinya, penampilannya tidak menarik, dan perilakunya juga kurang baik. Aku tidak perduli dengan hubungan haram, jadi mari kita fokus pada hubungan halal atau pasangan yang sah di mata agama.


Aku menemukan beberapa orang yang, meskipun sudah memiliki pasangan sah, masih memberikan reaksi positif kepada orang yang masih single bertujuan menggoda.


Di zaman sekarang lebih mudah melakukan hal tersebut lewat sosmed. Sebagai perempuan yang single, aku hanya tertarik pada laki-laki yang juga single. Aku tidak ingin mendapatkan suami orang atau bekas pasangan orang.


Ketika bertemu dengan laki-laki yang memberikan like, emot love, komentar secara berulang dan chat-nya mengarah ke curhat, dan chat yang tidak ada tujuan selain mencari perhatian kita, sebaiknya langsung blokir. 


Bagi perempuan baik-baik, tidak akan mau selingkuh dengan pasangan orang lain, terutama di zaman ini yang penuh dengan pelaku perselingkuhan. Sayangnya, seringkali perempuan yang disalahkan, padahal laki-laki juga memiliki peran dalam menjaga pandangan dan nafsu.


Lebih baik dianggap  sombong dan angkuh dari pada difitnah "pelakor". Ini juga untuk menghindari potensi masalah dengan suami orang tersebut. Dalam hubungan haram, aku tidak peduli, tetapi mengingat risikonya, lebih baik dihindari.


7. Mengasah skill 


Memilih untuk terus belajar melalui praktik dan ikut pelatihan menunjukkan komitmenku sebagai pemalas untuk terus berkembang. Pengalaman tersebut tidak hanya membantuku meningkatkan keterampilan praktis, tetapi juga membawa manfaat bagi pertumbuhan pribadi dan profesional.


Bertemu dengan orang baru dan berinteraksi dalam lingkungan pelatihan memberikan kesempatan untuk membangun jaringan sosial yang berharga, serta memperluas wawasan dan pemahaman.


Demikianlah catatan perjalanan hidupku di tahun 2023, sebuah lembaran tak terlupakan yang dipenuhi dengan berbagai kisah berharga dan hikmah. Semoga tulisan ini selalu mengingatkanku tentang sebuah proses yang sudah aku lalui. 

Volunteering di Nusa Penida 5 Hari 4 Malam

12/9/22
https://www.stafana.com/2022/10/manfaat-volunteering-untuk-kehidupan.html


Setelah aku berhasil menata mood dengan baik. Sesuai janji kemarin aku bakal sharing perjalanan menjadi relawan part 2 di Nusa Penida. Sebelumnya aku menjadi relawan di lembaga non profit dan aku merasa misplaced.

Pada akhirnya aku mendaftar kembali menjadi relawan dengan jalur self funded sebuah startup yang bergerak di bidang sosial dan masyarakat.

Di sinilah aku akan menuliskan secara jelas untukmu yang tertarik menjadi volunteer agar mempunyai gambaran kegiatan apa saja yang dilakukan ketika mengabdi ke masyarakat.


Apa itu Relawan?

Relawan / Sukarelawan adalah orang yang ikut kegiatan sukarela ( Bahasa Inggris : Volunteering ). Kegiatan ini bermaksud untuk membantu orang lain dalam hal kebaikan dan tidak hanya menjadi relawan bencana alam saja. Relawan dibagi menjadi beberapa divisi seperti, divisi pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lingkungan, penyelamatan darurat (rescue), dll.

Kenapa Menjadi Relawan?

Alasan kenapa aku ingin menjadi relawan yang tidak dibayar bahkan, aku rela membayar untuk menjadi relawan karena rasa penasaranku yang tidak mengalami kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata di Kampus) beberapa tahun lalu.

Setelah aku berbincang bersama teman-teman volunteer, ternyata mereka juga memiliki alasan yang sama ketika kita mengabdi di Nusa Penida.

Alasan lainnya, menjadi relawan adalah impian kecilku yang harus ku wujudkan sebelum menikah. Ketika sudah menikah kehidupan pasti berubah drastis. Salah satunya aku sudah tidak memiliki kebebasan seperti saat ini.

Aku bukan tipikal orang yang suka menghabiskan uang untuk jalan-jalan. Aku punya prinsip, ketika aku keluar rumah minimal ada yang bisa dibawa pulang, entah itu uang, teman, maupun pengalaman. Aku tidak mau menyesalinya dikemudian hari.

Tinggal Bersama Warga Lokal di Batumadeg


https://www.stafana.com/2022/10/manfaat-volunteering-untuk-kehidupan.html
Desa Adat Batumadeg (doc.pribadi)


Aku bergabung bersama startup peduli lingkungan karya mahasiswa UII Yogyakarta. Startup ini bernama "AiKite" yang artinya Air Kita yang berasal dari Bahasa Bangka. 

Diawali titik pertemuan berada di Pelabuhan Gilimanuk pukul 08.00 WIB. Sehari sebelumnya aku berangkat menggunakan kereta api Sri Tanjung - ekonomi 12 jam dari Solo Balapan dengan harga tiket Rp94 ribu rupiah. Untungnya aku dapat teman yang berangkat dari Yogyakarta jadi, perjalanan seharian di kereta api tidak membosankan diwarnai canda tawa kami.

Kami tinggal di satu rumah yang disebut dengan Rumah Volunteer. Rumah ini merupakan rumah warga lokal. Ada beberapa peraturan yang tidak boleh dilanggar sesuai kepercayaan warga setempat seperti, tidak boleh menginjak dengan sengaja dan memindahkan banten (persembahan sembahyang), tidak boleh masuk ke Pura bagi yang sedang haid, tidak boleh memindahkan air dari kamar mandi ke dapur maupun sebaliknya.

Di rumah ini kami tidur bersama di lantai dan di dalam kamar menggunakan kasur. Aku memilih di kamar saja karena tidak pernah tidur di lantai yang beralas karpet. Rumah Volunteer juga sudah disediakan selimut, bantal, dan guling.

Di Nusa Penida mengalami krisis air bersih jadi, di Rumah Volunteer air PDAM hanya mengalir 2 hari sekali. Di depan rumah ada satu sumur yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari jika air PDAM tidak mengalir. Para relawan juga harus menimba setiap mau menggunakan kamar mandi. Di sinilah untuk pertama kalinya aku menimba dan tidak ada masalah.


Program Selama di Nusa Penida


https://www.stafana.com/2022/10/manfaat-volunteering-untuk-kehidupan.html
Siswa-Siswa SMPN 6 Nusa Penida Kelas 2


Jujurly mereka ganteng-ganteng ya, em.. wajahnya sesuai umur mereka. Dulu di SMP-ku cowok-cowoknya badannya besar dan mukanya kayak anak SMA haha.

Kali ini kita membuat proyek "Rainwater Harvesting" untuk kegiatan sosial berupa penyuluhan terhadap masalah air, sanitasi, dan kebersihan ( hygiene ) yang berlokasi di SMPN 6 Nusa Penida. Pemanenan air hujan (Rainwater Harvesting) adalah sistem pengumpulan air hujan dalam sebuah tangki/reservoir yang kemudian dapat dimanfaatkan kembali menjadi alternatif sumber air bersih.

Kegiatan Selama Menjadi Volunteer


Day 1, Pengenalan masyarakat Banjar Adat Penutuk, Nusa Penida, interview warga bersama kelompok, dan village tour.
Day 2, Volunteer menjadi fasiliator kegiatan sosialisasi edukasi RWH (Rainwater Harvesting) kepada murid SMPN 6 Nusa Penida.
Day 3, Panitia mengedukasi relawan tentang RWH ( kegiatan hampir sama dengan day 2 ) lokasi di SMPN 6 Nusa Penida. Kegiatan kedua, lomba membuat konten Nusa Penida untuk para relawan.
Day 4, Trip Nusa Penida dan beach clean up
Day 5, Closing Ceremony dan kepulangan volunteer


Menu Makanan


Salah satu hal yang bikin dag dig dug ser, sebagai pemilih makanan. Menu makanannya ada Nasi kentucky, Nasi Goreng, Nasi Kuning, Nasi Telur, Nasi Pindang, Gado-Gado,dll. Wow! Ada menu spesial yaitu Sate Lilit Sambal Matah. Aku jadi suka sambal matah semenjak makan Sambal Matah Bali.


Evaluasi Diri


Dulu dimasa sekolah kegiatan menginap bukan jadi hal yang ku suka. Selalu ada alasan yang ku buat untuk tidak mengikutinya. Tapi, sekarang aku merasa kegiatan yang memerlukan waktu bermalam menjadi menyenangkan.

Ada beberapa hal yang baru aku ketahui semenjak hidup mandiri di kos. Ternyata aku sensitif suara saat tidur, aku tidak bisa tidur dengan orang banyak dalam waktu lama, aku tidak mau makan makanan yang bercampur sambal (kecuali sambal bawang), dan aku tidak bisa tidur di kamar yang berantakan.

Banyak sekali pantanganku bukan? ikut volunteering juga melatihku untuk bisa beradaptasi disegala kondisi, lebih peka terhadap lingkungan, lebih kritis, dan lebih menghargai hidup. 

Di hari keempat, tepat sebelum memasuki Kelingking Beach aku jatuh pingsan karena vertigo. Alasannya karena aku makan sedikit sebelum berangkat. Yup, aku tidak mau makan makanan yang tidak enak. Apalagi lauk pauk yang dicampur langsung sama sambal.

Tolong ya, wahai calon-calon panitia konsumsi, tidak semua orang Indonesia suka sambal termasuk aku. Aku bisa makan sambal paling 2-3x sebulan dan dalam porsi kecil. Karena inilah kondisi kesehatanku memburuk di hari terakhir.

Kesimpulan Cerita Relawan Part 2


https://www.stafana.com/2022/10/manfaat-volunteering-untuk-kehidupan.html
Periode 23-27 September 2022


Aku tekankan bahwa ini adalah kegiatan sukarela, bukan berwisata / open trip. Jadi ekspetasi teman-teman jangan melewati garis "volunteering". Menjadi relawan memang susah dan capek. Apalagi kita juga harus ikhlas. Seikhlas apa sih kita mengabdi ke masyarakat? 

Kita akan susah sinyal, air, makanan, listrik, atau kita bisa kesusahan dalam semuanya. Ini adalah sebuah tantangan wajib yang harus dilalui dan pastinya kita akan sering jalan kaki. Di Nusa Penida Alhamdulillah susah air saja dan sinyal lancar untuk kartu XL dan Telkomsel bahkan, ada wifi gratis tanpa password di desa. Aku sengaja tidak mengisi pulsa karena tujuan kedua di sini adalah puasa internet. Aku bebas dari kecanduan sosmed dan bisa fokus mengobrol lebih banyak ke teman-teman.


Aku belajar mengontrol ekspetasiku setelah sebelumnya zonk saat kegiatan relawan yang pertama (KLIK DI SINI). Rumah penduduk lokal juga sederhana tapi ini lebih dari cukup karena rumahnya bersih, terdapat dapur, dan kamar mandi.


Kalau kamu hanya ingin berwisata jangan ikut volunteering tetapi langsung ikut open trip. Di lapangannya kegiatan relawan akan lebih sulit. Menemukan warung sembako pun sudah sangat bersyukur.

Punya uang tapi tidak ada tempat untuk menghabiskan uang. Jangan manja dan mengeluh, sungguh ini kegiatan yang wajib dicoba meski seumur hidup sekali. Jangan salah pilih startup atau kamu akan menyesal seperti aku kemarin. 


Pengalaman Pertama Anak Bungsu yang Introvert Menjadi Relawan

9/20/22
https://www.stafana.com/2022/09/pengalaman-anakbungsu-introvert-menjadi-relawan.html


Selamat pagi pembaca, sudah lama aku tidak menulis. Diriku sedang berada di titik jenuh menjadi content creator. Aku bukanlah anak bungsu - introvert yang pendiam. Aku sangat cerewet tetapi, aku lebih suka menghabiskan waktu sendiri dan berada di circle pertemanan yang kecil. Di usia 23th aku baru sadar kalau aku seorang introvert setelah mengalami masa pandemi. Aku lebih sering di rumah dan memiliki banyak waktu untuk mengenal siapa diriku.


Kegiatan yang biasa aku lakukan adalah membuat konten di social media & blog secara mandiri. Aku senang bekerja sendiri di rumah dan jika butuh bersosialisasi barulah aku pergi ke luar rumah untuk mencari teman.


Kegiatan yang aku lakukan untuk mencari teman biasanya sebatas mengunjungi pertemuan komunitas blogger, datang ke event / workshop, jalan-jalan sendiri, dan bertemu dengan kawan lama. Semakin usia bertambah aku senang menghabiskan waktu sendirian.


Beberapa bulan terakhir aku hanya membuat konten berbayar. Alasan lain selain bosan, aku sedang sibuk melakukan perkerjaan lain yang tidak berhubungan dengan konten. Aku memutuskan menjadi relawan atau volunteer sejak tahun 2020 silam.


https://www.stafana.com/2022/09/pengalaman-anakbungsu-introvert-menjadi-relawan.html


Awal Tahun 2020

Dari dulu aku ingin sekali bisa pergi ke suatu tempat yang jauh dan berbaur dengan masyarakat asli. Sayangnya aku minim informasi dan saat di sekolah pun aku adalah murid yang pasif. Aku sudah punya ambisi ketika usiaku 13 tahun, aku harus cepat selesai sekolah dan bekerja. Di tahun 2017- sekarang cita-citaku terwujud. Lulus SMA aku sudah bekerja dan memberikan gaji pertama kepada mama.


Apa tujuanku ingin menjadi relawan?

Aku hanya ingin memiliki pengalaman menjadi relawan di bidang lingkungan / animal volunteer meskipun seumur hidup sekali. Karena aku mengambil sekolah perhotelan dan tidak punya pengalaman KKN tetapi, magang professional di hotel selama 6 bulan.


Aku sudah mencoba daftar jalur fully funded di salah satu komunitas dan gagal diseleksi berkas. Mungkin karena aku tidak memiliki pengalaman sama sekali. Aku tidak berharap banyak sih, jadi tidak terlalu kecewa. Aku mendaftar jalur ini dengan biaya 100ribu.


Tahun 2021

Aku mencoba daftar secara self funded di komunitas yang sama dengan syarat membayar 800ribu di Pulau Masalembu selama 10 hari. Sayangnya, karena aku anak bungsu mama tidak mengijinkan dan akhirnya aku mundur dengan berat hati. Padahal posisinya aku sudah membayar lunas seluruh biayanya.


Sebenarnya aku ingin nekat tapi, takut kenapa-kenapa di jalan. Kesalahanku karena aku daftar jadi relawan barulah memita ijin ke mama. Aku pikir bakal dibolehin setelah bayar seluruh biayanya ternyata tetap tidak boleh!


Tahun 2022

Aku tidak menyerah untuk mencoba. Bulan Agustus adalah bulan kelahiranku. Aku menghadiahi diriku sendiri dengan ikut kegiatan relawan di provinsi sebelah. Aku mengosongkan satu bulan untuk tidak bekerja hanya untuk kegiatan relawan. Aku sudah mem-follow sejak 2020 akun lembaga non profit yang bergerak dibidang perlindungan hutan dan satwa liar.


Aku mendaftar dengan syarat menjadi relawan minimal 1 bulan ( Tanggal 1 sept- 30 sept ) menjadi volunteer dengan biaya 100ribu untuk membeli baju dan 500ribu untuk commitment fee yang akan dikembalikan jika aku sudah menyelesaikan kegiatan relawan selama 1 bulan.


https://www.stafana.com/2022/09/pengalaman-anakbungsu-introvert-menjadi-relawan.html


Ekspetasi

Aku akan melakukan kegiatan di bidang lingkungan seperti: penanaman pohon, membersihkan alam, berkebun, melakukan pemilahan sampah daur ulang, seperti kegiatan Komunitas Lindungi Hutan. Aku juga akan tidur di tempat yang minim sekali jaringan internet, kasur busa, kamar kecil yang gelap, kamar mandi kotor dan sempit. Aku memikirkan ada 10 orang relawan di sana.


Sebelum akhirnya aku memutuskan bersedia membayar biaya total 600ribu, aku membaca berkali-kali junknis ( petunjuk teknis ) menjadi relawan di lembaga tersebut. Aku sanggup karena jam kerja mengikuti staff di sana dari jam 8 pagi-4 sore. Jika ditulis 8 jam / lebih aku sudah membatalkan niatku untuk bergabung. Karena aku lebih tau dengan batasan dan kondisi fisikku.


Tanggal 16 Agustus 2022, aku langsung membayar 600ribu dan setelah itu hening. Tidak ada kabar lagi selain menanyakan ukuran bajuku. Aku pikir akan diberitahukan barang apa saja yang wajib dibawa, informasi tambahan atau apalah.


Tepat tanggal 25 Agustus 2022 aku menanyakan informasi kedatangan paling lambat jam berapa dan meminta tolong agar jangan memberitahu informasi secara mendadak karena aku perlu membeli tiket kereta jauh-jauh hari agar harga tiketnya murah. Admin hanya membalas "siap".


Di sinilah aku berkata dalam hati jika tidak ada uang komitmen 500ribu, aku pasti sudah membatalkan ikut serta. Aku adalah orang yang suka mempersiapkan semua hal dari jauh-jauh hari. Bahkan mau ketemuan sama teman lama pun minimal 7 hari sebelum hari H. Aku perlu menata mood, mempersiapkan diri, dll. 


https://www.stafana.com/2022/09/pengalaman-anakbungsu-introvert-menjadi-relawan.html

Tanggal 31 Sept 2022 aku sudah sampai jam 8 pagi di lokasi. Aku mempersiapkan dengan matang bahkan membeli barang baru hanya untuk kegiatan selama sebulan di tempat itu. Jam 10 pagi staff baru masuk ke kantor. Barulah aku dihampiri seorang volunteer coordinator.


Dia menyuruhku tanda tangan dan setelah itu baru dijelaskan soal apa saja rules di lembaga itu. Tidak masalah karena mirip dengan isi junknis yang aku baca lewat email. Ada satu pertanyaan yang jawabannya cukup janggal yaitu, apa job desk aku di sini? volunteer coordinator bilang kalau kegiatan aku mengikuti kegiatan staff di sini. Aku hanya mengangguk tidak mengerti. Karena sudah tanda tangan perjanjian nggak bisa mundur lagi kan. Aku tidak bertanya lebih lanjut mengenai details pekerjaannya seperti apa.


Jam 11an siang aku diantar ke mess oleh seorang staff yang aku tebak dia sudah memiliki anak. Tapi firasatku mengatakan untuk jangan terlalu dekat dengan orang ini. sebut saja namanya,"mawar" Idk why? aku sih bersikap bodo amat dan bilang ke diri sendiri,"itu hanya pikiran burukku."


Di sini aku dapat kamar bekas gudang ( 1 kamar 2 orang ) dan makan siang 1x. Sarapan dan makan malam diusahakan sendiri. Sedihnya karena tempat pelosok jadi jauh dengan pasar dan tidak ada motor. Untung aku ada energen yang ku bawa dari rumah dan mie instant.


Hari pertama (1 Sept 22) aku berbincang dengan 5 orang relawan yang sudah duluan berada di sini. Sedikit mengejutkan karena ternyata aku salah ambil program. Program yang aku pilih seperti kegiatan panitia perlengkapan acara. Tugasnya bersih-bersih di penginapan wisata alam, balai makan, dan sekitar itulah. Menyapu, mengepel, mempersiapkan penginapan untuk tamu, angkat-angkat barang, apalagi ya? ya itulah..


Hari kedua (2 Sept 22) aku kaget karena kita kerjanya lembur sampai jam 8malam. Kegiatan hari ini bersih-bersih di balai makan. Firasatku sudah nggak enak nih kok lembur. Badanku sudah menggigil kedinginan. Aku tidak biasa tinggal di tempat dingin dan aku mengeluh ke teman,"aku kedinginan dan capek." Di sinilah aku nggak sadar bahwa ada si mawar memperhatikanku.


Hari ketiga (3 Sept 22) aku mulai kerja jam 5 pagi di balai makan - 12siang. Membersihkan bekas tamu dan menemani mereka outbound. Nah, di hari inilah ada kesalah pahaman. Aku sedang curcol ke teman kalau aku bikin konten kalau dibayar aja, karena aku lagi bosen jadi content creator.


Makanya aku pergi ke tempat ini untuk sekalian puasa internet. Tapi ada si mawar yang menguping pembicaraan kita dan menerjemahkan sendiri kalau aku tidak mau bikin konten untuk lembaga ini kalau tidak dibayar. 


Hari keempat (4 Sept 22) Aku mencuci sprei bekas tamu kira-kira 50an sprei. Di tanggal inilah aku bilang ke teman-teman relawan kalo aku ambil seminggu aja jadi relawan, nggak apa-apa uang komitmen hilang, meskipun mereka menyayangkan. Aku teringat seseorang di sana yang berkata,"Eksploitasi binatang dilarang tapi, mereka melakukan eksploitasi kepada manusia".


Yang bikin aku nggak ikhlas adalah jam kerja yang nggak sesuai perjanjian. Aku pernah magang di hotel, ngga ada tuh aku disuruh masuk kerja jam 5pagi meskipun hotel ada event. Malah eventnya hampir setiap hari lagi. Karena jam kerjanya jelas!


Hari kelima (5 Sept 22) hari libur, aku memutuskan untuk berbicara dengan volunteer coordinator kalau aku ingin mengundurkan diri karena tidak sesuai ekspetasi dan jam kerja yang berlebihan.


Aku juga merelakan uang 500ribu yang penting bisa keluar secepatnya sudah cukup. Tapi sayangnya ada evaluasi pagi-pagi staff dan founder. Si staff  bernama samaran "mawar" memfitnah aku dan akhirnya aku pulang ke Solo dengan uang komitmen ku 500ribu dikembalikan.


Kalian tahu di hari ke 5 ini adalah hari libur untuk relawan tapi akhirnya dijadikan hari kerja mencabut rumput bersama founder dan untungnya hari ini aku pulang ke Solo. Di sini aku seneng karena bisa pergi secepatnya meskipun harus difitnah dulu sama "mawar".


Tapi setelah pulang ke rumah aku berpikir, bagaimana caranya aku bisa keluar dengan uang 500ribu kalau tidak difitnah? (Selalu ada hikmah disetiap kejadian).


Bukan hanya aku yang mengeluh tapi, hanya diriku yang berani mengutarakan kalau sudah capek! Mereka yang lain hanya memilih mengeluh di dalam hati atau mengutarakan isi hati saat kita sedang beristirahat. Tapi yah, aku suka menjadi diriku sendiri. 


Pengalaman Pertama Anak Bungsu yang Introvert Menjadi Relawan

Ketika pulang aku disambut hangat oleh mama dan terlihat senang ketika anak bungsunya kembali. Aku juga jadi bahan bercandaan anggota keluarga lainnya ketika aku menjadi relawan bersih-bersih. Aku pulang ke rumah dan mendapat pesan bahwa ada project dan meeting online yang harus dikerjakan dan aku juga bisa bertemu dengan saudara jauh yang sedang menginap di rumah.


Coba kalau aku masih stay di tempat itu, aku akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan uang. Jadi aku tidak pernah menyesal atas kejadian ini. Memang hidup tidak selalu berjalan seperti apa yang kita mau. Tinggal kita melihat dari sudut pandang yang mana.


Hal-hal yang ku pelajari...

Aku lebih menerima keadaan sebagai anak bungsu bahwa, diusia berapapun anak bungsu tetap menjadi anak kecil di mata orang tua. Memang sangat melelahkan tapi, ini adalah bentuk cinta dari orang tua. Aku juga belajar untuk tidak mengabaikan firasatku dan tidak selalu berpikir semua orang itu baik.


Jangan asal pilih komunitas/lembaga/ yayasan untuk kegiatan magang/relawan. Pilihlah tempat dimana kamu akan mendapatkan skill baru yang bisa digunakan di dunia kerja. Aku akan memilih tempat yang ada uang saku/ magang di perusahaan besar. Aku juga banyak belajar dari kejadian ini dan bertemu dengan teman relawan lain untuk bertukar pikiran.

Lembaga/perusahaan yang berdiri sejak lama belum tentu menjadi tempat yang nyaman untuk magang. Setelah memasuki perusahaan tersebut kamu akan mengetahui toxic nya orang-orang di dalamnya. Yang terlihat di sosmed begitu "menyenangkan" belum tentu terlihat sama di real lifeSelalu berhati-hati adalah kunci.

Cukup sekian ceritaku menjadi cleaning service berkedok "Volunteer", semoga kamu tidak mengalami hal yang sama.


Banyak hal yang tidak ku tuliskan karena sudah lelah. Besok adalah part 2 jadi relawan di Nusa Penida, baca artikel barunya ya... ( KLIK DI SINI )




Auto Post Signature

Auto Post  Signature