Di titik inilah aku dipertemukan dengan BLKJP Semarang dan instruktur yang berasal dari Solo Barista Course (SBC). Sebenarnya, aku sudah mengenal SBC sejak 2024. Bahkan, akun keduaku pernah di-follow oleh mereka waktu itu. Tidak pernah terpikir bahwa beberapa tahun kemudian, aku justru akan bertemu kembali dengan mereka dalam sebuah pelatihan di BLKJP Semarang.
Pertama kali melihat workshop baristanya, aku cukup tercengang. Aku tidak menyangka fasilitasnya akan se-proper itu, termasuk mesin espresso yang digunakan. Menariknya, mesin tersebut ternyata sama dengan mesin yang aku gunakan saat mengikuti skill test di salah satu coffee shop terkenal di Solo.
Saat itu aku memang belum berhasil lolos karena skill-ku masih sangat kecil. Tapi ternyata, kegagalan itu bukan akhir. Justru dari sana aku mendapat kesempatan untuk belajar jauh lebih banyak dari yang sebelumnya aku bayangkan.
Ternyata Pelatihannya Tidak Main-Main
PERJALAN KECIL MENGENAL DUNIA KOPI
Saat wawancara pelatihan, aku sebenarnya sudah diberi tahu bahwa pelatihan ini cukup berat. Akan ada pre-test, praktik, tugas, dan tentu saja harus minum kopi hampir setiap hari. Ternyata levelnya berbeda.
Aku pernah mengikuti pelatihan BLK di Solo pada 2017, jadi aku sudah cukup tahu rasanya kembali menjadi “anak sekolah”. Bangun pagi, belajar sampai sore, mengerjakan tugas, praktik, mendapat nilai, lalu malamnya masih harus belajar lagi. Kalau tidak suka belajar, mungkin proses seperti ini akan terasa berat.
Di BLKJP Semarang, aku memulai perjalanan dengan mengerjakan pre-test yang menurutku cukup sulit. Nilai yang kudapatkan adalah 160/200. Dari sana, aku mulai belajar kembali dari dasar. Bukan hanya bagaimana membuat kopi, tetapi memahami kopi dari berbagai sisi.
Mulai dari sejarah kopi, jenis dan daerah tanam, varietas, proses pascapanen, profile roasting, coffee quality, fragrance dan aroma, acidity, flavor, body, hingga aftertaste.
Aku juga belajar tentang grinding quality untuk espresso maupun manual brew, berbagai brewing method, presentation of coffee, hingga kebersihan area kerja.
Semakin belajar, aku semakin sadar bahwa masuk ke dunia kopi berarti harus memahami kopi dari hulu sampai hilir. Mulai dari petani, roaster, hingga akhirnya sampai ke barista.
Dan Alhamdulillah, perjalanan itu perlahan terasa lengkap. Sebelumnya aku sudah pernah mengunjungi kebun kopi dan roastery saat mengikuti LPK. Kemudian di BLK, aku mendapat kesempatan untuk memperdalam apa yang sebelumnya hanya aku lihat dan rasakan.
Belajar Bukan Hanya Tentang Kopi
Yang paling berkesan ternyata bukan hanya soal espresso atau latte art. Kami juga belajar bekerja dalam kelompok. Mulai dari presentasi, membuat perencanaan bisnis, menyusun menu, mengembangkan resep, menghitung HPP, sampai menjalankan Open Bar. Kami harus menjual sekitar 120 cup dalam waktu dua jam.
Dan jujur, kerja kelompok menjadi salah satu bagian yang cukup sulit untukku. Selama ini aku terbiasa bekerja sendiri. Aku terbiasa menentukan standar sendiri dan menyelesaikan pekerjaan dengan caraku sendiri.
Ketika berada dalam kelompok, semuanya berbeda.
Ada yang harus menjadi ketua, ada pembagian tugas, ada keputusan yang harus disepakati bersama. Kadang ketika diarahkan, ada yang tidak langsung menerima. Bahkan untuk menentukan siapa yang menjadi ketua saja bisa menjadi tantangan tersendiri.
Tapi justru di situlah aku belajar sesuatu yang belum banyak aku alami sebelumnya dalam dunia kerja: bahwa kemampuan bekerja bukan hanya tentang seberapa baik kita menyelesaikan pekerjaan sendiri, tetapi juga bagaimana kita bekerja bersama orang lain.
Aku mulai belajar berkomunikasi, menerima perbedaan cara berpikir, menyampaikan pendapat, dan belajar untuk tidak selalu memaksakan standar yang ada di kepalaku sendiri.
Attitude Seorang Barista
Selain skill dan knowledge, kami juga belajar tentang attitude seorang barista.
Ada beberapa hal yang terus aku ingat:
- Confidence : percaya diri dengan kemampuan yang kita miliki.
- Knowledgeable : memiliki pengetahuan yang cukup tentang apa yang kita kerjakan.
- Affable : ramah dan mampu membuat orang lain merasa nyaman.
- On Time : menghargai waktu.
- Loyal : memiliki komitmen dan tanggung jawab terhadap pekerjaan.
Semakin lama belajar, aku semakin paham bahwa menjadi barista bukan hanya tentang bisa membuat espresso atau latte art yang bagus. Ada sikap yang juga harus dibentuk.
Apa yang Aku Bawa Pulang?
Kalau ditanya apa yang akhirnya aku dapat dari perjalanan ini, jawabannya jauh lebih besar daripada sekadar sertifikat atau kemampuan membuat kopi. Secara teori, aku mulai memahami dasar-dasar kopi dengan lebih baik. Secara praktik, aku mulai bisa mendapatkan espresso dengan extraction yang lebih baik, membuat steaming milk yang silky, dan membentuk latte art. Aku bahkan mulai berani mencoba wiggle. Dulu aku sering merasa skill-ku kecil.
Sekarang, perlahan aku mulai percaya diri dengan apa yang sudah bisa aku lakukan.
Aku juga mulai semakin masuk ke dalam dunia kopi dan menyadari bahwa untuk bekerja di hospitality, aku tidak cukup hanya belajar menjadi barista. Aku juga perlu memahami pekerjaan waiter, pelayanan, komunikasi, hingga hal-hal seperti menghitung HPP dan memahami bisnis.
Bahkan untuk manual brew yang dulu sering membuatku bad mood setiap kali masuk kelas, perlahan aku mulai menikmatinya. Aku mulai menikmati setiap pouring untuk mendapatkan secangkir V60 yang balance.
Meskipun aku tahu, masih banyak yang harus kupelajari. Aku juga mulai senang mengulik resep, mencoba sesuatu yang baru, dan memahami kenapa satu bahan bisa mengubah rasa sebuah minuman.
Mungkin inilah yang disebut proses. Dulu aku hanya ingin bisa membuat kopi. Sekarang aku mulai ingin memahami kopi.
Terima kasih untuk Balai Latihan Kerja Jasa Pariwisata Semarang dan Instruktur Solo Barista Course ( Coach Deryl, Coach Adji, dan Coach Arvien). Semua perjalanan dan momennya aku abadikan di Instagram @cupofshl.



Post Comment
Post a Comment
Terima kasih telah berkunjung di blog saya, silahkan berkomentar dengan baik dan sopan.