Tahun 2026 banyak mengajarkanku hal baru. Banyak kejadian yang terjadi, bahkan hal-hal yang dulu aku benci sekarang justru menjadi sesuatu yang aku sukai. Dari situ aku sadar kalau manusia memang selalu berubah. Pengalaman hidup bisa mengubah cara berpikir, sifat, dan pilihan seseorang, entah menjadi lebih baik atau lebih buruk.
Selama ini aku sebenarnya sudah tahu hal itu, tapi masih sering menyangkalnya. Aku terlalu mudah percaya bahwa seseorang akan selalu tetap sama, padahal kenyataannya tidak. Di tengah kondisi negara yang sedang tidak baik-baik saja, satu hal yang paling aku percaya hanyalah diriku sendiri. Karena pada akhirnya, hanya aku yang bisa bertanggung jawab atas hidup dan keputusan yang kuambil.
Aku pernah bingung setiap kali ditanya apa hobiku saat masih kecil. Jawabanku selalu, "membaca." Padahal yang paling sering kubaca hanyalah komik dan novel yang menghibur. Di sisi lain, aku juga sadar kalau aku suka menulis di buku, meski tulisanku tidak pernah bagus. Lama-lama aku menyadari bahwa ternyata aku menyukai banyak hal dan selalu bingung jika harus memilih hanya satu.
Sekarang aku mengerti, hobi tidak harus hanya satu. Kita bisa menyukai banyak hal, hanya saja tidak semuanya bisa kita lakukan dalam waktu yang bersamaan. Aku suka memasak, meski sepertinya aku lebih cocok membuat masakan rumahan. Aku juga suka makeup, merias wajahku sendiri agar lebih percaya diri tanpa harus pergi ke MUA yang biayanya tidak murah.
Aku juga mulai suka berkenalan dengan orang baru, sesuatu yang sangat berbeda dari diriku yang dulu. Aku suka membuat latte art, sampai akhirnya memutuskan belajar tentang kopi dari hulu sampai hilir. Pernah ada seseorang yang berkata kepadaku bahwa tidak semua hal harus dicoba. Tapi aku selalu meyakinkan diriku sendiri bahwa selama itu baik, sesuai minat, dan tidak haram untuk dilakukan, aku akan mencobanya.
Karena bagiku, hidup terlalu luas untuk dijalani dengan rasa takut. Aku ingin terus belajar, terus bertumbuh, dan memberi kesempatan pada diriku sendiri untuk menemukan hal-hal yang mungkin suatu hari akan menjadi bagian dari diriku.
Hobi menulis, membuat konten, dan belajar tentang kopi adalah beberapa hal yang aku sukai. Menariknya, semuanya juga bisa menghasilkan uang. Tapi ada satu nilai yang selalu aku pegang sejak dulu. Selama pekerjaanku membuatku sulit beribadah atau membuatku merasa tidak nyaman menjalankan keyakinanku, aku akan percaya bahwa tempat itu memang bukan tempatku.
Aku pernah mencoba masuk ke dunia modeling. Sayangnya, pengalaman pertamaku justru membuatku sadar bahwa aku berada di lingkungan yang kurang tepat untuk diriku. Saat itu hanya aku yang memilih meluangkan waktu untuk salat, dan aku merasakan sendiri bagaimana ibadah seolah dianggap mengganggu pekerjaan.
Bahkan pernah juga ada momen ketika aku dilarang salat oleh seseorang yang bekerja sebagai MUA. Padahal hari itu aku hanya mendapat satu kali makan tanpa bayaran. Pengalaman-pengalaman seperti itu membuatku semakin paham tentang batas yang ingin aku jaga dalam hidup.
Sekarang aku mulai mengerti mengapa ada tempat kerja yang mencari orang-orang yang menjaga ibadahnya. Bukan semata-mata soal identitas, tetapi karena mereka berharap menemukan orang yang memiliki nilai, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa setiap perbuatannya dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.
Aku juga sadar bahwa rajin beribadah bukan jaminan seseorang pasti baik, dan orang yang berbeda keyakinan pun bisa menjadi pribadi yang sangat baik. Namun untuk diriku sendiri, aku ingin berada di lingkungan yang menghormati ibadah dan membiarkanku tetap menjalankan prinsip yang kupegang.
Ini tentang aku, bukan tentangmu. Pengalamanku mungkin berbeda dengan pengalaman hidupmu. Tapi satu hal yang selalu kupercaya, setiap kejadian selalu membawa hikmah dan mengajarkanku menjadi pribadi yang lebih baik.
Jogjakarta, sebuah kota budaya yang selalu menyajikan kejutan menarik, ternyata juga punya pilihan penginapan yang ramah di kantong tapi tak mengorbankan kenyamanan. Salah satunya adalah OtU Hostel, yang terletak di Jalan Prawirotaman 1, Gang Batik Gringsing 0517.
Hostel seringkali lebih terjangkau secara finansial, memungkinkan interaksi sosial yang lebih intens dengan sesama wisatawan, dan cocok untuk para backpacker yang mencari pengalaman yang lebih autentik. Dalam artikel ini, kita akan menjelaskan lebih dalam mengenai kelebihan OtU Hostel dibandingkan hotel.
Saat pertama kali datang ke OtU Hostel, saya memutuskan untuk mencoba kamar asrama yang merupakan pilihan paling terjangkau. Kamar Asrama OtU Hostel Murah di Jogja Cuma 78 Ribu perorang, 1 kamar berisi 2 ranjang susun ( atas-bawah).
Menariknya, di sini kamar asrama ini berarti berbagi dengan sesama wisatawan, baik laki-laki maupun perempuan. Awalnya saya khawatir karena tidak mengenal siapa-siapa, tetapi setelah tiba di sana, semua ketakutan itu sirna. Para staf di OtU Hostel sangat ramah dan selalu siap membantu.
Salah satu hal yang saya suka adalah adanya kolam renang yang bersih dan menyegarkan di dalam hostel ini. Meskipun Wi-Fi tersedia, sayangnya, koneksi internetnya tidak selalu lancar, jadi jika Anda membutuhkan internet yang cepat, mungkin perlu mencari alternatif.
Sedikit membuatku terkejut pas nyadar kamar asramanya ternyata tidak punya kunci di pintu dan setiap lokernya, jadi cuma bisa ninggalin baju dan tas saja. Terus ada kejadian kurang enak, kamar mandinya tiba-tiba bau pesing pas aku mau check out. Jadi ya, ada orang yang pipis di situ, kayaknya cowok karena letak pipisnya tepat di bawah wc duduk. Nggak mungkin perempuan kan.
Aku nggak tidur di sini malamnya. Numpang tidur rumah temen, takut kalau sekamar ada cowo soalnya kan dicampur. Aku cuma mau tau suasana Hostel OtU seperti apa.
Tapi overall, hostelnya oke sih, kecuali masalah kebersihan tadi, karena paginya pas datang emang sebersih itu. Kamar mandi di luar ya. Aku masih mau coba nginep lagi kok, tapi pasti gak ambil kamar asrama lagi.
Lokasi OtU Hostel sangat strategis. Jalan Prawirotaman adalah tempat yang penuh dengan kehidupan malam dan cocok untuk bule hunter. Salah satu cafe favoritku, Tempo Gelato, sebuah tempat untuk menikmati es krim lezat, juga hanya berjarak singkat dari sini. Tinggal jalan kaki saja.
Cara Menjadi Model Make Up atau Muse - Disclaimer dulu nih, buat kalian yang mungkin mikir kalau orang-orang yang ikut kelas model itu pasti pingin jadi model, nggak selalu begitu kok. Salah satunya aku, yang lagi di fase bosen banget sama dunia konten dan kepenulisan. Bayangin aja, udah dari 2017 aku berkutat di situ.
Aku tuh suka banget belajar hal-hal baru, biar bisa lepas dari dua "beban" tadi dan pastinya kegiatan yang bisa bikin aku jauh dari handphone. Aku juga mau bisa tampil lebih percaya diri dan memperbaiki cara jalan yang "membungkuk" makanya aku ikut pelatihan model makeup dan model catwalk.
Salah satu alasan kenapa aku mau jadi Muse atau model makeup adalah karena aku pengen punya pengalaman di makeup banyak MUA. Jadi, pas aku butuh MUA buat acara aku, aku udah tau siapa yang bagus. Aku bisa diem-diem jadi klien mereka, nyoba makeup-nya, dan nantinya aku bisa rekomendasiin ke temen-temen yang nanya.
Aku mau sharing tentang gimana cara menjadi model make up atau Muse. Ini dia langkah-langkahnya:
1. Masuk Management atau Agensi
Pertama-tama, kamu perlu masuk ke Management atau agensi yang fokusnya pada model make up. Biasanya, kamu harus ikut kelas dulu supaya dianggap sebagai member resmi.
Cari management yang bertanggung jawab dan berpengalaman, karena mereka akan punya banyak relasi MUA dan fotografer. Jadi, kamu nggak perlu repot-repot cari sendiri. Management yang bertanggung jawab akan sering merangkul membernya dan sering mengadakan event untuk tumbuh bersama.
2. Banyakin Portofolio
Setelah ikut kelas, jangan berharap langsung dapat job. Manajemen biasanya hanya memberi ilmu tentang pose dan etika model.
Banyakin portofolio dengan upload foto-foto di sosial media. Tips dari aku:
Awalnya, jangan berharap dibayar. Fokus dulu cari pengalaman dan portofolio yang bagus.
3. Etika Model
Sebagai model, penting banget untuk punya etika yang baik. Datang tepat waktu, murah senyum, dan pastikan mulut nggak bau (makan permen sebelum di make up). Ini juga berlaku buat MUA ya. Perut juga harus terisi biar nggak lemes.
Walau nggak dibayar, biasanya kita dapat makan siang. Jadi kalau enggak dapat minimal air minum, mending skip, udah termasuk eksploitasi. Ini habbit buruk negara kita, pasti sering ketemu di bidang apapun.
4. Waktu Make Up dan Pemotretan
Idealnya, waktu make up dan pemotretan itu 3 jam: 2 jam untuk make up dan 1 jam untuk foto. Nggak perlu lama-lama kalau fotografernya jago. Pernah juga ikut portofolio workshop dari pagi sampai maghrib, menurutku enggak worth it.
Make up nggak bisa kena air kan, jadi sempat dilarang sholat. MUA pilih sholat di rumah aja, Jadi prefer nggak ikut lagi kalau waktunya terlalu lama dan bentrok dengan waktu sholat. Aku tetep pake buat sholat, udah gak dapat duit, dapat dosa karena gak bisa sholat tepat waktu, sediih. Solusi ambil job durasi lama pas datang bulan aja, aman.
5. Wajib bisa pake Softlens
Aku belajar otodidak lewat YouTube. Dilarang pake softlens yang udah pernah dipake orang lain/ soflens baru. Softlens baru harus direndam 1x24 jam menggunakan air khusus. Pernah ketemu MUA yang suruh pake softlens baru, bisa bahaya apalagi untuk mata. Buat pemula cari info dulu, jangan asal pake. Kalau sampe buta kan gak lucu.
Baca juga artikel di bawah ini:
Kolaborasi tetap penting buat pengalaman, tapi pastikan hargai waktu orang lain. Aku berprinsip mau dibayar, magang, atau collab wajib on time. Aku gak suka nunggu, jadi gak mau juga bikin orang lain menunggu. Terima kasih untuk orang-orang di negara serba ngaret ini, kalian tetap datang tepat waktu, semoga dipermudah dalam mencari duit halal dan semoga aku sering dipertemukan dengan orang-orang seperti kalian, Aamiin.
Kalau mau lebih bermodal, cari MUA dan fotografer sendiri yang bagus. Memang totalnya bisa habis ratusan ribu, tapi hasilnya gak akan mengecewakan. Kalau ikut portofolio gratisan kebanyakan MUA pemula, kita gak bisa pilih, sama-sama gak dapat duit mending jadi canvas MUA profesional.
Kamu dapat portofolio yang pasti memuaskan, tipsnya follow instagram MUA hits di kota kamu, biasanya mereka cari model lewat ig story/feed. Pastikan juga ada fotografer yang jago motret. Kalau dibayar jadi kanvasnya MUA pemula, itu beda cerita, karena sudah masuk kategori pekerjaan dan kita sudah dapat cuan.
Semoga tulisan aku Cara Menjadi Model Make Up atau Muse bermanfaat. Jangan asal pilih agensi atau manajemen, asal portofolio banyak.
Untuk informasi tambahan agar lebih hati-hati kamu bisa nonton konten Deddy Corbuzier di YouTube dengan narasumber Model profesional yang akhirnya resign. Semoga bermanfaat!
Belajar Roti Manis Bersama BPVP Surakarta & Dhuafa Jateng. Aku berkesempatan ikut Pelatihan Roti Manis yang diadakan BPVP Surakarta berkolaborasi dengan Dompet Dhuafa Jateng di BLK Surakarta. Dari sekitar 40 pendaftar, hanya 16 orang yang terpilih, dan aku salah satunya.
Rasanya senang sekaligus gugup, karena ini bukan sekadar belajar membuat roti, tapi belajar mengasah keterampilan yang bisa jadi bekal hidup.
Dalam 2 hari, kami belajar dasar-dasar pembuatan roti manis. Mulai dari menimbang bahan sesuai takaran, memahami urutan mencampur dari bahan kering ke cair, hingga rahasia kenapa beberapa bahan harus dimasukkan terakhir supaya roti tidak keras.
Ada teknik rounding yang ternyata penting untuk membentuk adonan, juga peringatan agar adonan tidak over proofing supaya teksturnya tetap lembut.
Sesi praktiknya seru sekali. Kami membuat roti manis topping jagung dan blueberry. Setelah adonan siap, roti dipanggang di oven selama 15 menit dan jangan lupa, dibalik!
Pelatihan ini membuatku sadar bahwa membuat roti itu bukan hanya soal rasa, tapi juga kesabaran, ketelitian, dan cinta pada proses. Yang membuatku semakin bersyukur, panitia memberikan perlengkapan memasak yang bermanfaat untuk melanjutkan latihan di rumah.
Setelah acara resmi ditutup, PR-ku adalah melakukan trial and error sendiri di rumah. Aku ingin memastikan ilmu yang diberikan tidak hilang begitu saja, tapi terus terasah sampai roti buatanku bisa punya cita rasa dan bentuk yang konsisten.
Bagi sebagian orang, dua hari mungkin terasa singkat. Tapi bagiku, dua hari ini seperti membuka pintu baru. Pintu menuju kemungkinan bahwa keterampilan bisa menjadi langkah awal menuju kemandirian.
Dan aku bersyukur sekali bisa menjadi bagian dari 16 orang yang mendapat kesempatan ini.
Awalnya, kegiatan mereka tidak rumit. Hanya ngobrol santai, menyanyi bareng, atau menemani saat beribadah. Tapi dari pertemuan kecil itu, tumbuh ikatan yang hangat. Mereka yang tadinya memilih diam mulai berani tersenyum. Keluarga yang awalnya merasa malu, pelan-pelan menemukan sahabat baru.
Triana sering bilang, “Kami bukan dokter, bukan psikolog. Kami hadir sebagai teman.” Dari situlah filosofi Griya lahir, bukan tempat penghakiman, tapi rumah persahabatan.
Skizofrenia dan masalah kesehatan jiwa lainnya sering bikin keluarga merasa terasing. Bukan hanya soal biaya pengobatan, tapi juga soal stigma. Orang takut dicap, sehingga banyak yang memilih berdiam diri.
Griya Scizofren mencoba menjembatani itu dengan kegiatan kreatif. Ada kelas menggambar, bikin kerajinan, sampai belajar keterampilan sederhana. Hasil karya ODMK bahkan dipasarkan lewat usaha sosial bernama SOLVE (Souvenir & Love). Jadi ketika orang menerima undangan pernikahan atau souvenir buatan mereka, yang sampai bukan cuma barang, tapi juga pesan: “Kami mampu berkarya.”
Dampaknya terasa sampai ke keluarga. Dari rasa malu berubah jadi rasa bangga. Dari pasrah berubah jadi harapan. Griya Scizofren, bukan hanya tempat singgah ODMK, tapi juga ruang penyembuhan bagi keluarga.
Perjalanan Griya tidak sendirian. Ada relawan, mahasiswa, komunitas, sampai masyarakat yang ikut bergerak. Kolaborasi inilah yang bikin langkah kecil Triana bisa bergema lebih besar.
Tahun 2018, ia jadi finalis Diplomat Success Challenge (DSC) dan dapat dukungan usaha untuk memperkuat programnya. Lalu di 2023, kiprahnya diakui secara nasional lewat SATU Indonesia Awards bidang Kesehatan.
Buat Triana, penghargaan bukan soal plakat. Lebih dari itu, ini validasi atas perjalanan panjang: dari ruang kecil di Solo, kini menjelma jadi gerakan sosial yang berkelanjutan. Dukungan Astra juga membuka jalan kolaborasi lebih luas lewat program Desa Sejahtera Astra dan Kampung Berseri Astra. Artinya, dampak Griya kini melampaui batas kota, menjangkau lebih banyak ruang di Indonesia.
Kita tahu, skizofrenia memang belum ada obat yang benar-benar tuntas. Tapi pengobatan medis yang konsisten, ditambah dukungan keluarga dan lingkungan yang ramah, bisa bikin ODMK hidup lebih bermakna.
Dan Griya membuktikan itu. Mereka yang dulu dipinggirkan kini berkarya. Mereka yang dulu sunyi kini punya lingkar persahabatan. Seperti yang Triana yakini, kesehatan jiwa bukan cuma soal medis, tapi soal diakui sebagai manusia utuh.
Kisah ini pas banget dengan tema Anugerah Pewarta Astra 2025: Satukan Gerak, Terus Berdampak. Dari langkah kecil, Triana berhasil menyatukan relawan, keluarga, masyarakat, hingga perusahaan. Semua bergerak bersama untuk satu tujuan: menghapus stigma dan merawat harapan.
Hari ini, Griya Schizofren bukan hanya rumah bagi ODMK, tapi juga simbol. Bukti nyata bahwa ketika kita bergandengan tangan, dampak baik bisa terus mengalir, dari ruang sederhana di Solo, menuju lebih banyak ruang di Indonesia.
Sabtu, 26 Juli 2025 siang, aku akhirnya nyobain hal baru: jadi volunteer membaca nyaring di Ganesa. Deg-degan? Sedikit. Tapi juga excited karena ini salah satu hal yang udah lama pengin aku coba.
Jam 1 siang aku sampai di lokasi. Mereka baru aja kelar main lego lalu anak-anak udah duduk baris setelah dapat perintah dari tim Ganesa Library.
Masih semangat, masih heboh, tapi langsung duduk waktu aku mulai bacain buku. Judul bukunya Birthday Zoo by Deborah Rose, buku anak-anak berbahasa Inggris yang aku bacakan dulu aslinya, lalu aku terjemahkan dan ceritakan pakai bahasa Indonesia.
Aku berdiri agak jauh dari mereka. Bukunya kecil, jadi mereka sampai maju-maju pengin lihat gambarnya. Ada sekitar 20 anak plus orang tuanya. Beberapa ada yang masih kecil banget, ada yang sambil main mobil-mobilan. Tapi karena aku bacanya lantang, hampir semuanya tetap fokus.
What happened? Mereka dengerin. Mereka nyimak. Mereka jawab pertanyaan. Bahkan yang mukanya kelihatan tegang pun tetap angkat tangan, tetap antusias. Aku cuma bacain sekitar 15 menit, tapi rasanya lebih dari cukup buat bikin aku merasa: aku bisa!
Padahal jujur, aku belum makan siang. Badan udah capek dari pagi. Tapi lihat mereka duduk rapi, maju-maju, senyum-senyum pas aku cerita, semua capek langsung terbayar. Aku dapet energi. Aku ngerasa dihargai. Aku jadi lebih percaya diri.
Terima kasih buat tim Ganesa yang udah kasih aku kesempatan, udah dokumentasiin juga. Ini bukan cuma soal bacain buku, tapi soal melatih diri, berani tampil, dan membuka ruang sosial yang selama ini mungkin mulai tertutup.
Kalau kamu juga pengin nyobain baca nyaring di Ganesa, bisa kok. Cek Instagram mereka atau langsung chat via WhatsApp. Dijamin dibalas.
Dan siapa tahu, dari satu cerita kecil, kamu juga bisa pulang bawa rasa besar.
Recharge Energy di Tengah Kesibukan: Cerita dari Ruang Infus. Beberapa hari lalu, aku lagi ada di fase hectic: kerjaan banyak, badan mulai kasih kode, kepala rasanya penuh to-do list yang nggak kelar-kelar.
Tapi entah kenapa, di tengah padatnya aktivitas, aku ngerasa perlu pause sebentar. Bukan liburan jauh, cuma pengin ngerawat badan yang mulai ngasih sinyal capek.
Akhirnya aku mutusin buat nyempetin diri infus immune booster di RS Panti Waluyo Surakarta. Lokasinya ada di Gedung Rawat Inap Lantai 1. Tempatnya nyaman, adem, dan pelayanannya ramah banget. Jadwalnya fleksibel, bisa datang Senin–Sabtu jam 10.00–14.00 dan 18.00–20.00 WIB.
Pengalaman infusnya juga bikin tenang. Buat yang biasa disuntik, rasanya hampir nggak sakit. Aku bahkan dapet tips dari perawat: minum air putih cukup sebelum diinfus itu penting, karena bikin pembuluh darah lebih mudah terlihat, jadi proses infusnya lebih lancar.
Efeknya? Jujur, aku baru benar-benar ngerasain besok harinya.
Biasanya kalau Minggu aku ikut komunitas, aku cuma sanggup nongkrong 2–4 jam. Tapi kali ini aku bisa stay sampai 10 jam! Bener-bener kaget karena energiku kayak nggak habis-habis. Aku malah semangat ngobrol, ketawa, diskusi, sampai ngerasa badan pengin terus gerak dan produktif.
Baru ngeh, mungkin ini efek dari booster kemarin. Bukan cuma bikin badan terasa segar sesaat, tapi benar-benar bantu stamina buat aktivitas padat di hari-hari berikutnya.
Immune Booster 1 (Vitamin B1, B6, B12) : Rp225.000
Immune Booster 2 (Vitamin B1, B6, B12 + Vitamin C) : Rp275.000
Immune Booster 3 (Multivitamin komplit) : Rp350.000
Bonus: dapat snack gratis juga!
Buat kamu yang kerjanya padat, masih harus turun ke lapangan, jadi narasumber, atau lagi ngerasa gampang capek , cobain deh. Prosesnya nggak ribet, waktunya singkat sekitar 30 menit, tapi efeknya nyata.
Kadang kita lupa, kalau tubuh juga perlu “diisi ulang”. Bukan berarti manja, tapi memang perlu dirawat.
Seru dan Hangat di Rumah Sakit Panti Waluyo: Merayakan Hari Anak Nasional 2025 Bersama Read Aloud Solo Raya. Dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional 2025, Rumah Sakit Panti Waluyo Surakarta mengajak Read Aloud Solo Raya untuk menghadirkan momen istimewa lewat kegiatan "Dongeng & Edukasi Kesehatan", Sabtu (26/7) di Ruang Bakung.
Acara ini diikuti oleh 10 peserta, terdiri dari anak-anak pasien dan pendamping orang tua yang ikut menemani. Selama 30 menit, Kak Nova dan Kak Stafa membacakan cerita dengan penuh ekspresi dan kehangatan. Anak-anak tampak antusias dan terhibur; beberapa anak bahkan ikut mengomentari isi buku. Kegiatan ini bukan sekadar hiburan tetapi juga menjadi ruang kecil untuk mengalihkan perhatian mereka dari rasa sakit, memberi semangat, dan menghadirkan suasana yang lebih ceria di tengah perawatan.
Setelah sesi membaca nyaing, para peserta diajak foto bersama dan masing-masing mendapatkan kenang-kenangan dari RS Panti Waluyo. Semoga mereka lekas pulih dan bisa kembali bermain sediakala.
Momen Hangat Hari Anak di RS Panti Waluyo Lewat Membaca Nyaring. Terima kasih untuk semua yang sudah terlibat. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan menjadi penguat bagi anak-anak dan keluarga di tengah proses penyembuhan.
Pernah nggak sih, kamu lihat anak kecil yang mulai sering nyipit-nyipitin mata saat lihat papan tulis atau nonton TV? Nah, buku anak berjudul Mata Doni Buram ini ngajak kita ngikutin kisah Doni yang mulai ngerasa matanya nggak enak, tulisan di papan jadi buram, dan dia mulai kesulitan belajar.
Ceritanya ringan banget, tapi punya pesan yang penting: kalau mata mulai nggak nyaman, jangan ragu buat bilang ke orang tua dan periksa ke dokter. Lewat ilustrasi yang lucu dan warna-warni, buku ini ngajarin anak-anak bahwa pakai kacamata itu bukan hal yang memalukan, malah bisa bantu mereka lihat dunia dengan lebih jelas.
Menurutku, buku ini cocok banget buat dibacain bareng anak atau keponakan usia TK sampai SD kelas awal. Ceritanya relate, edukatif, dan bisa jadi bahan obrolan santai tentang pentingnya jaga kesehatan mata sejak kecil.
Gemes banget! Yang bikin aku terharu, mereka beneran antusias. Ceritanya nyampe ke mereka, dan mereka juga nggak malu buat ngobrol balik. Di situlah aku makin yakin kalau kegiatan sederhana kayak gini bisa jadi momen penting buat menumbuhkan minat baca dan daya imajinasi anak-anak. Aku seneng banget bisa jadi bagian dari kegiatan ini.
Karena pakai kacamata sejak SD. Dulu aku tuh sering mikir kalau orang yang pakai kacamata itu kelihatan keren dan pintar. Karena pengin kayak gitu, aku sengaja banget nonton TV dari jarak dekat (iya, dekat banget!), sampai akhirnya di kelas 3 atau 4 SD, mataku mulai nggak jelas lihat papan tulis dan sejak itu, aku resmi jadi anak berkacamata. Sekarang? Jujur aja, nyesel. Tapi ya udah lah ya, namanya juga masa kecil penuh eksperimen.
Sekarang aku cuma bisa berharap, semoga anak-anak zaman sekarang makin cinta sama buku. Baca bukunya di tempat yang terang ya, jangan di tempat gelap. Dan semoga bisa ngurangin waktu main HP, biar nggak cuma scroll-scroll doang tapi juga bisa tumbuh jadi anak yang cerdas dan kritis.
Semoga makin banyak acara seru kayak gini di sekolah-sekolah lain, biar makin banyak anak yang jatuh cinta sama buku dan cerita. Sampai jumpa di kegiatan baca bareng selanjutnya, ya!
Grand Rohan, hotel syariah bintang empat di Jogja, menghadirkan makan siang dengan tema berbeda setiap hari. Mengusung konsep All You Can Eat Lunch Buffet, mereka menyajikan hidangan spesial untuk para penggemar kuliner lokal maupun internasional. Nikmati Lunch Buffet Tanpa Bosan di Grand Rohan Jogja. Beragam hidangan dari berbagai belahan dunia, semuanya dalam satu tempat. Hotel Syari'ah ini menjadi hotel syari'ah terbaik di Yogyakarta.
AYCE Lunch Buffet Grand Rohan tersedia setiap hari dari Senin sampai Sabtu. Setiap hari punya tema yang berbeda-beda, jadi ada enam tema dalam seminggu. Menu highlight-nya pun berbeda setiap minggunya, jadi kamu nggak akan bosan menikmati makan siang di sini.
Menu yang disajikan bukan cuma enak di lidah, tapi juga menggoda dengan aromanya dan terlihat cantik. Buffet Lunch ini bisa dinikmati dari jam 12.00 sampai 14.00 WIB, pas banget untuk makan siang, dan diadakan di Seroja Restaurant.
Ada tiga pilihan tempat duduk: di dalam ruangan dengan suasana hangat dan nyaman, semi-outdoor yang lebih terbuka, atau outdoor dengan pemandangan taman dan kolam ikan. Jangan khawatir, buffet dan stall-nya ada di dalam maupun di luar ruangan.
Harga untuk makan siang spesial ini adalah Rp150.000 net/orang. Semua hidangannya halal dan bisa dinikmati oleh siapa saja, bahkan yang bukan tamu hotel pun bisa datang hanya untuk makan. Berikut ini tema harian untuk AYCE Lunch Buffet di Grand Rohan Jogja:
SENIN – EAT IS MONDAY
Mulai hari Senin dengan semangat, nikmati sajian spesial pilihan Chef. Menu-menu signature dan favorit dari Seroja Restaurant siap menemani harimu.
SELASA – SELASA NUSANTARA
Hari Selasa khusus untuk menikmati kuliner Nusantara dari berbagai daerah di Indonesia. Setiap minggu, highlight-nya berganti, memperkenalkan masakan khas dari berbagai daerah, mulai dari Papua hingga Aceh.
RABU – ASIAN CULINARY
Buat kamu yang suka kuliner Asia, hari Rabu adalah surganya! Ada berbagai menu dari negara Asia seperti Jepang, Korea, Thailand, Malaysia, dan lainnya. Setiap minggu, ada satu negara yang jadi sorotan, tapi tetap ada menu dari negara-negara Asia lainnya.
KAMIS – WESTIVAL
Nikmati sajian khas Eropa, atau biasa disebut Western Food, di hari Kamis. Ada berbagai hidangan dari Italia, seperti pizza dan pasta, serta roti dan crepes dari Perancis, dan masih banyak lagi.
JUMAT – JUMAT BAROKAH
Spesial di hari Jumat, kamu bisa menikmati sajian lokal dan internasional sekaligus. Kombinasi makanan dari Indonesia, Asia, dan Eropa ada di Seroja Restaurant. Lengkap dan tersedia di beberapa station.
SABTU – PASAR TUMPLEK
Sabtu adalah hari untuk menikmati hidangan seafood segar dan masakan khas Seroja. Ada berbagai sajian dari laut seperti ikan, kerang, dan lainnya. Yang lebih menarik lagi, ada live cooking, jadi semua makanan dibuat langsung dan segar.
Jadi, kalau kamu lagi di Jogja dan ingin Nikmati Lunch Buffet Tanpa Bosan di Grand Rohan Jogja yang beragam tanpa harus repot, siap memanjakanmu. Setiap harinya ada tema berbeda yang bikin kamu nggak bakal bosan.
Hai, teman-teman! Kemarin, tanggal 31 Agustus 2024, aku berkesempatan menghadiri acara Launching Voice People Jogja & Voice Clinic di Internet Learning Cafe,Yogyakarta, dan rasanya nggak bisa menahan diri untuk berbagi pengalaman ini dengan kalian.
Setelah melihat postingan brosur acara ini di Instagram Voice People Jogja, aku langsung daftar saat itu juga! Iya, mungkin aku adalah orang pertama yang transfer biayanya, hanya Rp75.000.
Menurutku sangat terjangkau untuk acara sebagus ini. Lokasinya di Yogyakarta, yang bisa aku akses dengan mudah menggunakan KRL dari Solo, salah satu alasan kenapa aku nggak berpikir dua kali untuk ikut.
Acara ini dipandu oleh Bimo Kusumo dan Binta Nadhila, yang membahas tentang dasar-dasar voice-over. Sebagai seseorang yang sudah berkecimpung di dunia dubber sejak 2017, aku merasa materi ini sangat relevan untuk mengasah kemampuan dasar yang mungkin sudah lama aku tahu, tapi jarang aku aplikasikan dengan benar.
Ada enam teknik dasar yang dibahas di sini, dan meskipun aku sudah familiar dengan materinya, tetap saja aku merasa harus serius mempraktikkannya.
Selain sesi day 1, ada juga sesi day 2 Voice Clinic di Lor by Awor Yogyakarta yang sayangnya tidak sempat aku ikuti, karena langsung praktik di Studio. Materi lebih mendalam dan membutuhkan investasi lebih. Tapi kalau ada kesempatan, aku pasti tertarik untuk ikut di lain waktu.
Aku tiba di lokasi acara sekitar jam 09.00 pagi, dan aku sangat terkesan karena acara ini dimulai tepat waktu, jam 10.00 pagi, yang jarang terjadi di acara-acara lain di Indonesia.
Meski acaranya harusnya selesai jam 16:00, ternyata molor karena antusiasme peserta yang begitu tinggi untuk bertanya. Aku sendiri sempat ingin bertanya, tapi sayangnya nggak sempat dipanggil.
Meskipun begitu, aku senang sekali karena di akhir acara aku berhasil foto bareng dengan Bimo Kusumo dan Binta Nadhila.
Oh ya, ada juga sesi tentang personal branding yang dibawakan oleh Dhanu Riza. Materi ini juga sebenarnya sudah aku dengar dari kakakku, tapi tetap saja seru untuk mendengar dari sudut pandang yang berbeda.
Akhirnya, aku pulang ke Solo dengan perasaan puas dan penuh semangat untuk segera mempraktikkan ilmu yang aku dapat. Bulan baru ini jadi momen yang tepat untuk mulai belajar otodidak lagi.
Voice Institute Indonesia merupakan salah satu pionir platform belajar bagi para voice talent di Indonesia. Berdiri sejak 2019, mereka menyediakan berbagai layanan mulai dari webinar, workshop, event offline, hingga kampanye digital.
Jadi, kenapa aku memutuskan untuk bergabung dengan Voice People Jogja? Alasannya sederhana: aku butuh lingkungan yang positif, di mana kita bisa berbagi minat yang sama. Kebetulan, event ini diadakan di Yogyakarta, yang masih dekat dengan tempat tinggalku di Solo. Dengan jarak yang relatif dekat, aku bisa ikut acara-acara mereka tanpa harus berpikir panjang.
Sebagai seseorang yang sudah pernah terjun di dunia dubber, termasuk mengisi suara karakter jahat "Sarah" dalam animasi "Riska dan si Gembul," yang sempat tayang di beberapa stasiun TV seperti MNCTV, Trans7, dan RTV, aku merasa butuh memperdalam skill-ku.
Meskipun orang sering melihat pekerjaan ini dengan penuh kekaguman, aku sendiri merasa masih banyak yang harus dipelajari. Animasinya memang sedang off setelah pandemi, tapi karakter ini tetap menjadi bagian penting dari perjalanan karirku.
Dengan rezeki yang selama ini datang dari konten dan ngeblog, aku ingin terus mengembangkan diri. Komunitas seperti Voice People Jogja adalah tempat yang tepat untuk itu.
Harapanku, komunitas ini bisa benar-benar sukses dan berkembang, bukan hanya sebagai wadah untuk ngobrol-ngobrol atau sekadar kumpul tanpa arah. Aku ingin komunitas ini menjadi tempat di mana kita bisa latihan voice-over bersama, saling berbagi pengetahuan, dan tumbuh bersama.
Kalau ada rezeki, aku juga berharap bisa ikut Voice Clinic yang diadakan di Jakarta nanti. Semoga semuanya berjalan lancar dan sukses, tidak hanya untuk event kali ini, tapi juga untuk event-event selanjutnya.
Acaranya seru dan ilmu baru, penuh doorprize, dan meskipun capek, semangat para peserta dan panitia luar biasa. Salut dan sukses terus untuk Voice Institute Indonesia!
Tahun 2024 ini terasa berbeda dengan banyak perubahan yang kualami. Aku memutuskan untuk merayakan diri sendiri di Yogyakarta, kota yang dekat dengan tempat kelahiranku di Solo. Aku suka naik KRL, dan kali ini aku beruntung bisa menginap di Grand Rohan Yogyakarta pada 25-26 Agustus 2024. Kamu yang mencari tempat istirahat yang nyaman dan makanan yang enak, Grand Rohan Yogyakarta wajib masuk dalam daftar staycation-mu berikutnya!
Merayakan Diri di Grand Rohan Yogyakarta - Hari itu dimulai dengan kegiatan yang sudah lama ingin kucoba, yaitu belajar Latte Art. Setelah kegiatan pagi yang seru, aku sampai di Grand Rohan Yogyakarta sekitar jam 6 sore. Begitu masuk kamar, aku mendapatkan sambutan berupa cheesecake yang lucu dan enak. Aku langsung merasa nyaman.
Kamarnya luas, bersih, dan dilengkapi dengan segala yang dibutuhkan, termasuk Al-Quran, mukena, sajadah, dan arah kiblat yang jelas. Ada juga balkon dengan pemandangan Gunung Merapi kalau cuaca sedang cerah.
Kolam renangnya berada di bawah, dan area ini bebas asap rokok kecuali di balkon, yang buatku sangat nyaman. Plus, air panas di kamar mandi cepat sekali keluar, jadi nggak perlu nunggu lama. Terima kasih banyak untuk fasilitas kamarnya!
Untuk afternoon meals, aku menikmati Meat Lover Pizza, Seroja Platter, Dimsum, dan Ice Lemon Tea. Saat makan malam, aku memilih area semi-outdoor Lembayung Senja yang memiliki halal bar.
Di sini kamu bisa menikmati berbagai minuman dari kopi hingga mocktail yang menyegarkan. Menu dinner yang kucoba antara lain burger Grand Rohan, nasi goreng Seroja, sup iga sumsum, bakmi jawa goreng, tomyam seafood, dan pasta Carbonara.
Tomyam seafood menjadi favoritku karena rasanya yang asam segar dan sedikit pedas. Sebagai orang yang alergi udang, aku senang karena udangnya segar dan tidak bikin lidah gatal.
Nasi goreng Seroja memiliki rempah yang terasa, sup iga sumsumnya empuk, dan bakmi jawa gorengnya manis khas Jawa banget. Pasta Carbonara juga enak, dengan keju dan susu yang berasa serta porsi yang besar.
Grand Rohan juga memiliki Seroja Restaurant, indoor resto yang menjadi area makan utama di Grand Rohan Jogja, terutama untuk sarapan pagi. Untuk breakfast di hari Senin, di area indoor tersedia nasi goreng Yung-Chaw, soto Lamongan, ramesan nasi uduk, steam fish oyster, dan chicken khuluyuk.
Sementara di area outdoor ada pasta corner, takoyaki, bubur mutiara, beras kencur, kunyit asam, dan hot ginger.
![]() |
| Bebek Goreng Mataram (sebelah kiri) |
Saat lunch, aku berada di Anggur Laut, area outdoor resto dengan konsep garden di bawah rindangnya tanaman anggur laut, yang menjadi tempat yang nyaman untuk makan siang. menu di area indoor meliputi bakso Malang, gorengan, nasi krawu Gresik, ikan goreng sambal matah, nasi tutuk oncom, rujak ice cream, crepes, dan es kuwut. Di area outdoor, aku bisa menikmati tomyam, ayam bakar percik, fish teppan, dan beef krengsengan.
Grand Rohan Jogja adalah hotel MICE bintang 4 yang mengusung konsep syariah sebagai nilai utama yang diterapkan dalam manajemen hotel. Hotel ini memiliki 185 kamar dengan berbagai tipe, seperti Deluxe, Deluxe Balcony, Family Suite, Family Pool Access, Executive Suite, Business Suite, Premium Suite, Heritage Suite, dan Grand Rohan Suite. Jadi, kamu bisa memilih kamar yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensimu.
Hotel ini juga punya paket makan siang all you can eat setiap hari Senin sampai Sabtu dari pukul 11.30 sampai 14.00 di Seroja Restaurant, dengan tema yang berbeda tiap hari, seperti perpaduan menu western dan tradisional, hidangan nusantara, kuliner Asia, makanan western, kuliner Timur Tengah, hingga kombinasi kuliner nusantara dan tradisional. Harganya Rp 150.000 per orang, cukup menggiurkan, terutama buat pecinta kuliner.
Selain itu, hotel ini punya koleksi motor dan mobil antik di lobi, yang menambah daya tarik unik. Kalau kamu datang bersama keluarga, ada Kids-Venture Playground di dekat kolam renang, jadi anak-anak juga bisa bersenang-senang.
Tasneem Swimming Pool punya kolam dengan kedalaman bervariasi, termasuk area khusus anak-anak. Buat yang tetap ingin aktif, Fit-Venture Fitness Centre menyediakan fasilitas lengkap untuk olahraga. Masjid Al Mi’raj yang berada di satu lantai dengan lobi juga menyediakan tempat sholat berjamaah yang nyaman.
Kalau kamu berencana mengadakan acara outdoor, Riaz Garden yang berada di belakang hotel bisa jadi pilihan yang ideal, baik untuk wedding, gathering, atau sekadar berolahraga.
Mengungkap Keindahan Desa Sidowarno - Desa Sidowarno, terletak di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, adalah desa yang tidak hanya dikenal dengan keindahan alamnya tetapi juga dengan tradisi kerajinan wayang kulitnya.
Desa ini memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak tahun 1960, ketika Mbah Hadi Kasimo pertama kali memperkenalkan seni wayang kulit kepada masyarakat setempat. Kini, setelah lebih dari 60 tahun, kerajinan wayang kulit di Sidowarno telah menjadi simbol budaya yang kuat dan bagian penting dari identitas desa ini.
Kerajinan wayang kulit di Desa Sidowarno pertama kali dikembangkan oleh Mbah Hadi Kasimo pada tahun 1960.
Sejak saat itu, tradisi ini terus dilestarikan oleh generasi demi generasi. Saat ini, terdapat sekitar 75 perajin wayang kulit yang masih aktif, mengolah kulit sapi, kerbau, dan kambing menjadi karya seni yang memukau.
Dengan semakin terkenalnya kerajinan ini, Desa Sidowarno resmi dinyatakan sebagai desa wisata wayang oleh Pemerintah Kabupaten Klaten pada tahun 2020.
Sejak diresmikan sebagai desa wisata wayang, Sidowarno telah menjadi tujuan wisata yang menarik bagi banyak orang. Wayang kulit di sini terkenal karena kualitasnya, dengan kulit sapi sebagai bahan utama yang digunakan.
Di sini juga sering diadakan pagelaran wayang kulit, baik oleh orang-orang sepuh maupun generasi muda. Desa ini memiliki luas sekitar 277,8 hektar dan lebih tepatnya terletak di Desa Butuh. Desa ini dikelilingi oleh aliran sungai yang menambah suasana semakin asri dan nyaman.
Proses pembuatan wayang kulit di Desa Sidowarno adalah seni yang memerlukan ketelitian dan keterampilan tinggi. Berikut adalah langkah-langkah dalam pembuatan wayang kulit:
Kisah Sukses Petani Millenial dengan Aloe Vera di Gunung Kidul - Mengenal Alan Effendi dan Aloe Land. Di sebuah desa kecil bernama Katongan di Gunungkidul, terdapat seorang pemuda inspiratif bernama Alan Effendi.
Sejak tahun 2014, Alan berhasil menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya melalui Kampung Edukasi Aloe Land. Tempat ini tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga memberikan pengetahuan tentang tanaman lidah buaya atau aloe vera.
Alan Effendi, asli dari Desa Katongan, meraih prestasi gemilang dengan menjadi salah satu pemenang ASTRA Satu Indonesia Award 2021. Penghargaan ini diperoleh berkat dedikasinya dalam mengembangkan usaha budi daya dan pengolahan lidah buaya dengan merek RASANE VERA.
Pada tanggal 10 Juni 2021, Alan mendaftar dalam kategori kewirausahaan, yang menitikberatkan penilaian pada dampak positif usaha terhadap lingkungan dan perekonomian masyarakat sekitar.
Di awal usahanya, Alan menghadapi berbagai tantangan. Produk minuman aloe vera yang diproduksinya pada tahun 2015 memiliki banyak kekurangan, seperti rasa yang kurang enak, tekstur berlendir, tidak tahan lama, dan menyebabkan rasa gatal di tenggorokan.
Namun, Alan tidak menyerah. Dengan ketekunan, ia terus mengembangkan formulanya, dan pada tahun 2019, berhasil menciptakan minuman aloe vera yang dapat dinikmati konsumen. Kini, produk tersebut sudah tersebar di berbagai toko oleh-oleh di Pulau Jawa hingga ke Bogor dan Jakarta.
Dalam proses produksi, Alan melibatkan ibu-ibu dan kaum millenial secara seimbang. Sekitar 50% ibu-ibu terlibat dalam proses panen dan pengupasan, sedangkan 50% lainnya, yang terdiri dari kaum millenial, bertanggung jawab dalam proses pengemasan.
Aloe vera sendiri hanya dipanen setahun sekali, dan perawatannya tergolong mudah karena hampir tidak ada hama yang menyerang. Tanaman ini bisa tumbuh dengan baik tanpa perlu disiram secara rutin, tetapi untuk keperluan panen, tanaman ini tetap disiram dan diberi pupuk organik.
Selain minuman aloe vera, Alan juga mengembangkan berbagai produk olahan berbahan dasar lidah buaya, seperti aloe vera chips, nata de aloe vera, dan aloe vera cube drink. Produk-produk ini dijual dengan harga yang terjangkau, mulai dari Rp10.000.
Pada awalnya, banyak yang meremehkan usaha Alan, termasuk para ibu-ibu di desanya. Namun, Alan terus mengkampanyekan pentingnya budi daya lidah buaya, khususnya kepada para ibu rumah tangga.
Pada tahun 2018, mereka mulai tertarik dan belajar merawat tanaman ini. Hingga tahun 2023, ibu-ibu di desanya telah berhasil mengolah lidah buaya menjadi produk seperti dodol, permen, dan produk turunan lainnya.
Peran generasi millenial dan karang taruna di desa juga sangat penting dalam pengembangan usaha ini. Mereka membantu dalam produksi dan juga memandu tamu yang datang ke Aloe Land.
Tempat ini terbuka untuk umum, termasuk pelajar yang ingin belajar tentang budi daya aloe vera, branding, legalitas, dan pemasaran.
Dalam sebuah acara Roadshow Lomba Foto dan Anugerah Pewarta ASTRA 2024 di Lokananta Solo, Alan Effendi berbagi tips berharga dalam memulai wirausaha. Menurut Alan, penting untuk bergabung dengan komunitas yang tepat, khususnya komunitas entrepreneur.
Dengan bergabung dalam komunitas ini, kita bisa mendapatkan dukungan, berbagi pengalaman, dan menemukan solusi untuk tantangan yang dihadapi.
Dukungan dari Komunitas Digital Content Creators (DCC) Indonesia dan Solopos Media Group turut mendorong keberhasilan acara roadshow kali ini.
Kisah Sukses Petani Millenial dengan Aloe Vera di Gunung Kidul - Melalui kerja keras dan dedikasinya, Alan Effendi menciptakan sesuatu yang lebih dari sekadar usaha.
Aloe Land bukan hanya tempat belajar budi daya aloe vera, tetapi juga simbol keberhasilan dan pemberdayaan masyarakat di desanya. Alan membuktikan bahwa dengan semangat millenial, inovasi, dan keberanian untuk mengambil risiko, semua hal bisa dicapai.
Sumber foto: instagram @Rasanevera