Top Social

Image Slider

IBX59CC0B1F0120F

Pengalaman Pertama Anak Bungsu yang Introvert Menjadi Relawan

9/20/22
https://www.stafana.com/2022/09/pengalaman-anakbungsu-introvert-menjadi-relawan.html


Selamat pagi pembaca, sudah lama aku tidak menulis. Diriku sedang berada di titik jenuh menjadi content creator. Aku bukanlah anak bungsu - introvert yang pendiam. Aku sangat cerewet tetapi, aku lebih suka menghabiskan waktu sendiri dan berada di circle pertemanan yang kecil. Di usia 23th aku baru sadar kalau aku seorang introvert setelah mengalami masa pandemi. Aku lebih sering di rumah dan memiliki banyak waktu untuk mengenal siapa diriku.


Kegiatan yang biasa aku lakukan adalah membuat konten di social media & blog secara mandiri. Aku senang bekerja sendiri di rumah dan jika butuh bersosialisasi barulah aku pergi ke luar rumah untuk mencari teman.


Kegiatan yang aku lakukan untuk mencari teman biasanya sebatas mengunjungi pertemuan komunitas blogger, datang ke event / workshop, jalan-jalan sendiri, dan bertemu dengan kawan lama. Semakin usia bertambah aku senang menghabiskan waktu sendirian.


Beberapa bulan terakhir aku hanya membuat konten berbayar. Alasan lain selain bosan, aku sedang sibuk melakukan perkerjaan lain yang tidak berhubungan dengan konten. Aku memutuskan menjadi relawan atau volunteer sejak tahun 2020 silam.


https://www.stafana.com/2022/09/pengalaman-anakbungsu-introvert-menjadi-relawan.html


Awal Tahun 2020

Dari dulu aku ingin sekali bisa pergi ke suatu tempat yang jauh dan berbaur dengan masyarakat asli. Sayangnya aku minim informasi dan saat di sekolah pun aku adalah murid yang pasif. Aku sudah punya ambisi ketika usiaku 13 tahun, aku harus cepat selesai sekolah dan bekerja. Di tahun 2017- sekarang cita-citaku terwujud. Lulus SMA aku sudah bekerja dan memberikan gaji pertama kepada mama.


Apa tujuanku ingin menjadi relawan?

Aku hanya ingin memiliki pengalaman menjadi relawan di bidang lingkungan / animal volunteer meskipun seumur hidup sekali. Karena aku mengambil sekolah perhotelan dan tidak punya pengalaman KKN tetapi, magang professional di hotel selama 6 bulan.


Aku sudah mencoba daftar jalur fully funded di salah satu komunitas dan gagal diseleksi berkas. Mungkin karena aku tidak memiliki pengalaman sama sekali. Aku tidak berharap banyak sih, jadi tidak terlalu kecewa. Aku mendaftar jalur ini dengan biaya 100ribu.


Tahun 2021

Aku mencoba daftar secara self funded di komunitas yang sama dengan syarat membayar 800ribu di Pulau Masalembu selama 10 hari. Sayangnya, karena aku anak bungsu mama tidak mengijinkan dan akhirnya aku mundur dengan berat hati. Padahal posisinya aku sudah membayar lunas seluruh biayanya.


Sebenarnya aku ingin nekat tapi, takut kenapa-kenapa di jalan. Kesalahanku karena aku daftar jadi relawan barulah memita ijin ke mama. Aku pikir bakal dibolehin setelah bayar seluruh biayanya ternyata tetap tidak boleh!


Tahun 2022

Aku tidak menyerah untuk mencoba. Bulan Agustus adalah bulan kelahiranku. Aku menghadiahi diriku sendiri dengan ikut kegiatan relawan di provinsi sebelah. Aku mengosongkan satu bulan untuk tidak bekerja hanya untuk kegiatan relawan. Aku sudah mem-follow sejak 2020 akun lembaga non profit yang bergerak dibidang perlindungan hutan dan satwa liar.


Aku mendaftar dengan syarat menjadi relawan minimal 1 bulan ( Tanggal 1 sept- 30 sept ) menjadi volunteer dengan biaya 100ribu untuk membeli baju dan 500ribu untuk commitment fee yang akan dikembalikan jika aku sudah menyelesaikan kegiatan relawan selama 1 bulan.


https://www.stafana.com/2022/09/pengalaman-anakbungsu-introvert-menjadi-relawan.html


Ekspetasi

Aku akan melakukan kegiatan di bidang lingkungan seperti: penanaman pohon, membersihkan alam, berkebun, melakukan pemilahan sampah daur ulang, seperti kegiatan Komunitas Lindungi Hutan. Aku juga akan tidur di tempat yang minim sekali jaringan internet, kasur busa, kamar kecil yang gelap, kamar mandi kotor dan sempit. Aku memikirkan ada 10 orang relawan di sana.


Sebelum akhirnya aku memutuskan bersedia membayar biaya total 600ribu, aku membaca berkali-kali junknis ( petunjuk teknis ) menjadi relawan di lembaga tersebut. Aku sanggup karena jam kerja mengikuti staff di sana dari jam 8 pagi-4 sore. Jika ditulis 8 jam / lebih aku sudah membatalkan niatku untuk bergabung. Karena aku lebih tau dengan batasan dan kondisi fisikku.


Tanggal 16 Agustus 2022, aku langsung membayar 600ribu dan setelah itu hening. Tidak ada kabar lagi selain menanyakan ukuran bajuku. Aku pikir akan diberitahukan barang apa saja yang wajib dibawa, informasi tambahan atau apalah.


Tepat tanggal 25 Agustus 2022 aku menanyakan informasi kedatangan paling lambat jam berapa dan meminta tolong agar jangan memberitahu informasi secara mendadak karena aku perlu membeli tiket kereta jauh-jauh hari agar harga tiketnya murah. Admin hanya membalas "siap".


Di sinilah aku berkata dalam hati jika tidak ada uang komitmen 500ribu, aku pasti sudah membatalkan ikut serta. Aku adalah orang yang suka mempersiapkan semua hal dari jauh-jauh hari. Bahkan mau ketemuan sama teman lama pun minimal 7 hari sebelum hari H. Aku perlu menata mood, mempersiapkan diri, dll. 


https://www.stafana.com/2022/09/pengalaman-anakbungsu-introvert-menjadi-relawan.html

Tanggal 31 Sept 2022 aku sudah sampai jam 8 pagi di lokasi. Aku mempersiapkan dengan matang bahkan membeli barang baru hanya untuk kegiatan selama sebulan di tempat itu. Jam 10 pagi staff baru masuk ke kantor. Barulah aku dihampiri seorang volunteer coordinator.


Dia menyuruhku tanda tangan dan setelah itu baru dijelaskan soal apa saja rules di lembaga itu. Tidak masalah karena mirip dengan isi junknis yang aku baca lewat email. Ada satu pertanyaan yang jawabannya cukup janggal yaitu, apa job desk aku di sini? volunteer coordinator bilang kalau kegiatan aku mengikuti kegiatan staff di sini. Aku hanya mengangguk tidak mengerti. Karena sudah tanda tangan perjanjian nggak bisa mundur lagi kan. Aku tidak bertanya lebih lanjut mengenai details pekerjaannya seperti apa.


Jam 11an siang aku diantar ke mess oleh seorang staff yang aku tebak dia sudah memiliki anak. Tapi firasatku mengatakan untuk jangan terlalu dekat dengan orang ini. sebut saja namanya,"mawar" Idk why? aku sih bersikap bodo amat dan bilang ke diri sendiri,"itu hanya pikiran burukku."


Di sini aku dapat kamar bekas gudang ( 1 kamar 2 orang ) dan makan siang 1x. Sarapan dan makan malam diusahakan sendiri. Sedihnya karena tempat pelosok jadi jauh dengan pasar dan tidak ada motor. Untung aku ada energen yang ku bawa dari rumah dan mie instant.


Hari pertama (1 Sept 22) aku berbincang dengan 5 orang relawan yang sudah duluan berada di sini. Sedikit mengejutkan karena ternyata aku salah ambil program. Program yang aku pilih seperti kegiatan panitia perlengkapan acara. Tugasnya bersih-bersih di penginapan wisata alam, balai makan, dan sekitar itulah. Menyapu, mengepel, mempersiapkan penginapan untuk tamu, angkat-angkat barang, apalagi ya? ya itulah..


Hari kedua (2 Sept 22) aku kaget karena kita kerjanya lembur sampai jam 8malam. Kegiatan hari ini bersih-bersih di balai makan. Firasatku sudah nggak enak nih kok lembur. Badanku sudah menggigil kedinginan. Aku tidak biasa tinggal di tempat dingin dan aku mengeluh ke teman,"aku kedinginan dan capek." Di sinilah aku nggak sadar bahwa ada si mawar memperhatikanku.


Hari ketiga (3 Sept 22) aku mulai kerja jam 5 pagi di balai makan - 12siang. Membersihkan bekas tamu dan menemani mereka outbound. Nah, di hari inilah ada kesalah pahaman. Aku sedang curcol ke teman kalau aku bikin konten kalau dibayar aja, karena aku lagi bosen jadi content creator.


Makanya aku pergi ke tempat ini untuk sekalian puasa internet. Tapi ada si mawar yang menguping pembicaraan kita dan menerjemahkan sendiri kalau aku tidak mau bikin konten untuk lembaga ini kalau tidak dibayar. 


Hari keempat (4 Sept 22) Aku mencuci sprei bekas tamu kira-kira 50an sprei. Di tanggal inilah aku bilang ke teman-teman relawan kalo aku ambil seminggu aja jadi relawan, nggak apa-apa uang komitmen hilang, meskipun mereka menyayangkan. Aku teringat seseorang di sana yang berkata,"Eksploitasi binatang dilarang tapi, mereka melakukan eksploitasi kepada manusia".


Yang bikin aku nggak ikhlas adalah jam kerja yang nggak sesuai perjanjian. Aku pernah magang di hotel, ngga ada tuh aku disuruh masuk kerja jam 5pagi meskipun hotel ada event. Malah eventnya hampir setiap hari lagi. Karena jam kerjanya jelas!


Hari kelima (5 Sept 22) hari libur, aku memutuskan untuk berbicara dengan volunteer coordinator kalau aku ingin mengundurkan diri karena tidak sesuai ekspetasi dan jam kerja yang berlebihan.


Aku juga merelakan uang 500ribu yang penting bisa keluar secepatnya sudah cukup. Tapi sayangnya ada evaluasi pagi-pagi staff dan founder. Si staff  bernama samaran "mawar" ini bilang aku sering mengeluh dan ternyata mawar menerjemahkan sendiri apa yang didengar waktu menguping di hari ketiga bahwa," Stafa pernah bilang kalau dia maunya bikin konten kalo dibayar."


Akhirnya aku ditegur founder dan aktivitas relawan ku dihentikan dengan uang komitmen ku 500ribu dikembalikan. 


Aku kaget tapi seneng uangku balik dan ada rasa kesel juga sama "mawar". Kalau aku ingin dapat uang kenapa mesti jadi relawan (pekerja suka rela) di lembaga non profit pula. Logikanya nggak masuk loh! Ini tuh udah jauh dari arti relawan yang sebenarnya.


Kalian tahu di hari ke 5 ini adalah hari libur untuk relawan tapi akhirnya dijadikan hari kerja mencabut rumput bersama founder dan untungnya hari ini aku pulang ke Solo. Di sini aku seneng karena bisa pergi secepatnya meskipun harus difitnah dulu sama "mawar".


Tapi setelah pulang ke rumah aku berpikir, bagaimana caranya aku bisa keluar dengan uang 500ribu kalau tidak difitnah? (Selalu ada hikmah disetiap kejadian).


Bukan hanya aku yang mengeluh tapi, hanya diriku yang berani mengutarakan kalau sudah capek! Mereka yang lain hanya memilih mengeluh di dalam hati atau saat kita beristirahat. Tapi yah, aku suka menjadi diriku sendiri. 


Pengalaman Pertama Anak Bungsu yang Introvert Menjadi Relawan

Ketika pulang aku disambut hangat oleh mama dan terlihat senang ketika anak bungsunya kembali. Aku juga jadi bahan bercandaan anggota keluarga lainnya ketika aku menjadi relawan bersih-bersih. Aku pulang ke rumah dan mendapat pesan bahwa ada project dan meeting online yang harus dikerjakan dan aku juga bisa bertemu dengan saudara jauh yang sedang menginap di rumah.


Coba kalau aku masih stay di tempat itu, aku akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan uang. Jadi aku tidak pernah menyesal atas kejadian ini. Memang hidup tidak selalu berjalan seperti apa yang kita mau. Tinggal kita melihat dari sudut pandang yang mana.


Hal-hal yang ku pelajari...

Aku lebih menerima keadaan sebagai anak bungsu bahwa, diusia berapapun anak bungsu tetap menjadi anak kecil di mata orang tua. Memang sangat melelahkan tapi, ini adalah bentuk cinta dari orang tua. Aku juga belajar untuk tidak mengabaikan firasatku dan tidak selalu berpikir semua orang itu baik.


Jangan asal pilih komunitas/lembaga/ yayasan untuk kegiatan magang/relawan. Pilihlah tempat dimana kamu akan mendapatkan skill baru yang bisa digunakan di dunia kerja. Aku akan memilih tempat yang ada uang saku/ magang di perusahaan besar. Aku juga banyak belajar dari kejadian ini dan bertemu dengan teman relawan lain untuk bertukar pikiran.

Lembaga/perusahaan yang berdiri sejak lama belum tentu menjadi tempat yang nyaman untuk magang. Setelah memasuki kamu baru akan mengetahui toxic nya orang-orang di dalamnya. Yang terlihat di sosmed begitu "menyenangkan" belum tentu terlihat sama di real lifeSelalu berhati-hati adalah kunci.

Cukup sekian ceritaku menjadi cleaning service berkedok "Volunteer", semoga kamu tidak mengalami hal yang sama.


Banyak hal yang tidak ku tuliskan karena sudah lelah. Besok adalah part 2 jadi relawan di Nusa Penida, ditunggu artikel barunya ya... 




Auto Post Signature

Auto Post  Signature