Beberapa waktu lalu aku mengikuti kelas makeup gratis untuk belajar merias diri sendiri.Sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku belajar makeup. Aku pernah mengikuti kelas berbayar, bahkan private. Jadi, saat melihat ada kelas gratis, alasanku ikut bukan karena benar-benar ingin belajar dari nol.
Aku hanya sedang menikmati waktu luang yang entah sampai kapan akan berlangsung. Daripada blogku semakin berdebu dan hari-hariku hanya diisi rebahan, aku memilih mencoba kegiatan baru. Siapa tahu ada pengalaman menarik yang bisa diceritakan.
Kelas ini berlangsung selama lima hari berturut-turut. Sayangnya, aku hanya mengikuti empat hari. Hari keempat aku memutuskan tidak datang karena badan sedang kurang enak. Sejujurnya, aku juga mulai merasa bosan.
Jumlah peserta yang terdaftar sekitar dua puluh orang, tetapi yang hadir setiap hari mungkin hanya sekitar delapan orang. Semua peserta membawa perlengkapan makeup masing-masing, sementara beberapa alat disediakan untuk dipakai bersama.
Jadwal kelas seharusnya dimulai pukul delapan pagi sampai tiga sore. Namun kenyataannya, kami sering baru mulai sekitar pukul sembilan dan selesai sekitar pukul dua siang.
Yang membuatku heran, durasi selama itu rasanya tidak benar-benar diperlukan. Aku hanya perlu sekitar dua jam untuk menyelesaikan makeup di wajahku sendiri. Setelah itu, waktunya lebih banyak diisi dengan obrolan yang tidak terlalu berhubungan dengan materi. Bahkan beberapa kali aku memilih tidur siang daripada ikut mengobrol karena merasa tidak ada lagi yang bisa kupelajari hari itu.
Materinya juga masih sangat dasar. Mungkin memang disesuaikan dengan peserta yang sebagian besar masih mahasiswa dan beberapa sedang tidak bekerja. Buat mereka yang baru mulai belajar makeup, materi ini mungkin cukup membantu.
Kalau ditanya apakah ada kemajuan? Tentu ada. Walaupun tidak banyak, setidaknya aku kembali mengingat teknik-teknik dasar dan mencoba beberapa hal yang sebelumnya jarang kulakukan sendiri.
Sebelum kelas dimulai, aku sebenarnya cukup antusias. Karena memang datang untuk belajar, aku memberanikan diri bertanya. Padahal aku termasuk orang yang cukup pemalu kalau berada di lingkungan baru.
Sayangnya, antusiasme itu tidak bertahan lama.
Ketika aku mengajukan pertanyaan lagi karena masih belum benar-benar paham, respons dari instruktur terasa seperti orang yang mulai kehilangan kesabaran. Seolah-olah bertanya dua kali berarti aku tidak mendengarkan penjelasannya. Aku langsung memilih diam.
Pengalaman itu membuatku teringat masa sekolah. Rasanya bukan cuma aku yang pernah mengalami guru atau pengajar yang menganggap murid tidak memperhatikan hanya karena bertanya ulang. Kadang responsnya berupa sindiran, kadang tatapan yang membuat kita berpikir lebih baik diam saja daripada dianggap bodoh.
Padahal belum tentu seseorang bertanya karena tidak mendengarkan. Bisa jadi ia memang sedang berusaha memahami.
Menurutku, hal-hal seperti ini tanpa sadar membentuk banyak orang menjadi takut berbicara. Takut mengajukan pertanyaan. Takut mengungkapkan pendapat. Takut dianggap lambat.
Padahal bukankah fungsi kelas memang menjadi tempat yang aman untuk belajar?
Karena alasan itulah aku memilih tidak menyebutkan nama penyelenggara kelas ini. Tujuanku bukan untuk menjatuhkan siapa pun. Pengalaman setiap orang tentu bisa berbeda, dan mungkin peserta lain merasa kelas ini sudah cukup baik.
Kalau soal hasil makeup, aku memang mendapat tambahan ilmu. Teknik menggambar alis yang diajarkan juga cukup rapi, hanya saja lebih sesuai dengan gaya yang berbeda dari seleraku. Belakangan ini aku lebih menyukai makeup ala Korea yang terlihat lebih natural dan ringan.
Pada akhirnya, pelajaran yang paling kuingat dari kelas ini justru bukan tentang foundation, cushion, atau cara menggambar alis.
Aku belajar bahwa kemampuan mengajar bukan hanya soal menguasai materi. Cara seorang instruktur merespons pertanyaan juga menentukan apakah peserta akan tetap berani belajar atau memilih diam.

Post Comment
Post a Comment
Terima kasih telah berkunjung di blog saya, silahkan berkomentar dengan baik dan sopan.